Kamis, 12 April 2012

Teknik 'Melemahkan Diri', Bisakah itu?

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan kecil bersama seorang teman saya yang 'senasib', saat berjalan kaki menuju kost teman yang jauhnya nggak ketulungan (padahal siang itu panaass bangeet!), kemudian, seorang teman yang bermobil lewat dan bertanya basa-basi, setelah itu berlalu begitu saja. Kami berpandangan, sama-sama tahu apa yang dipikirkan karena pada dasarnya kita senasib dan sepikiran (hahaha). Kita sama-sama tahu kalau dia habis ganti mobil. 3 tahun kuliah, 3 kali ganti mobil, jek! Saluuutt!

Setelah 'nona sosialita' berlalu, teman saya ini memulai percakapan dengan menanyakan, apakah saya percaya dengan ungkapan "Tuhan itu tidak akan mencobai kita, lebih dari kemampuan kita". Saya jawab percaya, karena meskipun selama ini cobaan datang tiada henti, saya masih tetep survive menghadapi dengan segala daya tenaga yang saya punya dan sedikit keluh kesah :p.
Kemudian dia melanjutkan obrolannya. "Kalau kita dikasih cobaan segini beratnya, jalan kaki tiap hari, buat biayain kuliah susah payah, kerja serabutan, berarti Tuhan anggep kita kuat dan mampu ya?" Terus, saya 'iyain' aja. Jadi, letak problemnya dimana nih?
"Trus kalau si 'nona' (sebut saja begitu, samaran buat temen saya yang bermobil), diberi kemudahan dengan fasilitas yang plus plus, berarti Tuhan anggep dia nggak kuat buat ngadepin cobaan kayak kita ya?" tanya dia lagi.
"IYA! trus kenapaaa?" jawab saya dengan agak mangkel. Abis ini bocah ngomongnya nggak to the point, jadi gregetan sendiri saya.
"Kalo kita diberi cobaan berat, berarti kita kuat. Trus yang tajir gilaaak macem 'nona', berarti dianggep lemah dan nggak mampu ngadepin cobaan kayak kita. Gimana kalo kita 'melemahkan diri'? Biar nggak dianggep mampu sama Tuhan untuk menghadapi cobaan berat ini. Trus kita bisa hidup enak kayak 'nona'"
Saya agak terbengong-bengong dengan perkataan teman saya yg sometimes 'gila' ini. Bener juga omongan ini bocah. Disela-sela kebengongan saya, dia melanjutkan kembali ocehannya. "Coba aja kalo dia hidup susah kayak kita, sehariii aja. Mana bisaaa coba??"
Saya agak memutar otak untuk mencerna omongan si bocah gila ini, beberapa menit kemudian baru mengerti dan bertanya "Trus gimana caranya 'melemahkan diri' kita?"
"Bilang aja 'Tuhaaan, saya lemah, saya nggak kuat menghadapi cobaan-Mu'. Ngeluh terus aja setiap kita dapet cobaan."
Gubraaaaakkk! mana bisa kita main tawar-tawaran sama Tuhan. Seenaknya aja ini bocah, saya rasa dia mulai gila. Kalau soal ngeluh, udah tiap hari saya ngeluh, tapi tetep aja kayak gini, nggak lift up. Malah makin nggak enjoy kalau saya ngeluh. Haduuuh, bener-bener udah agak miring dia. Tapi pemikiran 'gila'nya ini membuka pikiran saya sejenak dengan ungkapan 'melemahkan diri'.

Saya rasa, kita nggak akan bisa pura-pura dihadapan Tuhan. Pretending, acting, or whatever, Tuhan itu Maha Tahu. Dia tahu kita mampu, Dia tahu kita kuat, jadi Dia berikan cobaan ini. Kita nggak akan bisa berpura-pura nggak mampu, karena Tuhan tahu kita bisa! Tuhan bahkan lebih tahu kita, lebih dari kita mengetahui diri kita sendiri (agak mbulet :p).

Jadi intinya, kita harus BANGGA karena Tuhan menganggap kita kuat menghadapi cobaan berat. Mungkin kita nggak punya harta melimpah, tapi kita punya satu KELEBIHAN yang nggak si 'nona' atau sosialita lain punya, yaitu KEKUATAN menghadapi cobaan. Yang penting kita bahagia menjalaninya, meskipun kadang juga ingin ada di posisi mereka.
Satu lagi, kita juga nggak tahu loh kalau masalah mereka bisa jadi lebih complicated daripada yang saya dan teman saya hadapi itu. So don't think to weaken yourself! SEMANGAAAATTT!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar