Selasa, 12 Maret 2013

Sebuah Pelajaran dari Seekor Kecoa

Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kemiripan nama, tokoh, setting, dan jalan cerita, itu hanya kebetulan semata.

Sebuah pelajaran dari kecoa, sebut saja namanya Zorro, seorang eh seekor kecoa yang lagi dalam masa puber, masa beranjak dewasa (yakali cuma manusia aja yang bisa dewasa). Sama seperti manusia, kecoa seusianya mulai mencari jati diri. Polah tingkahnya mengikuti emosi yang masih labil, selabil lumpur hidup dimana setiap gerakan langkahmu dapat menelanmu jauh ke dalamnya.

Namun Zorro bukanlah kecoa biasa. Jika kecoa seusianya hanya mengetahui dunia per-kecoa-an, Zorro tidak demikian. Zorro gemar curi-curi waktu nonton tv, bersembunyi di balik kursi, ketika manusia pemilik rumah sedang menyalakannya. Ia juga suka menyelinap di balik keyboard ketika sang pemilik rumah sedang berselancar dengan komputernya. Hingga ia tahu apa saja yang terjadi di dunia manusia, jauh lebih tahu dibandingkan ia mengetahui dunianya sendiri. Beruntungnya ia tinggal di rumah yang nyaman. Di luar sana, banyak kecoa seusianya yang tinggal di luar kenyamanan, dalam sela-sela got yang bau dan sering meluap, di antara tumpukan sampah dan sisa makanan, atau dalam toilet yang pengap dan gelap.

Hingga suatu saat , ia menemukan satu kata yang menurutnya dapat mendorong semangatnya, namun sesat jika ditelan mentah-mentah oleh seekor kecoa sepertinya. Kata itu adalah KEREN. Kata yang ia dengar tempo hari di tv, dari seorang remaja cantik dan teman-temannya pada cowok ganteng dengan style masa kini. Kemudian terpikir olehnya, alangkah indahnya jika hal itu terjadi padanya. Ia akan disanjung oleh kecoa-kecoa cewek seusianya dan bahkan mungkin manusia! Aku harus jadi keren! pikirnya. Cowok itu disukai cewek-cewek karena keren.

Berhari-hari dipikirkannya cara untuk menjadi keren. Sampai kemudian ia mendengar percakapan di radio bahwa keren itu kalo nonton konser salah satu band yang lagi eksis saat ini. Band yang vokalisnya punya poni fungsional; korden, penutup mata dan penutup muka. Dengan segala daya upaya, ia berusaha datang ke konser band yang lagunya lagi hits di kalangan manusia muda. Mulai dari menjatuhkan diri dalam tumpukan sampah, karena biasanya sampah-sampah ini akan diangkut truk menuju tempat pembuangan akhir. Zorro pun menyelinap di antara padatnya jalan. Hingga sampailah ia disebuah lapangan luas yang tak lagi terasa luas karena lautan manusia yang antusias. Padatnya lapangan itu bahkan membuat kecoa sekecilnya tak bisa sedikitpun bergerk bebas, bahkan berkali-kali ia nyaris terinjak. Hingga kemudian ia putuskan untuk pulang dengan badan remuk redam. Ia tak yakin bahwa ini yang disebut KEREN.

Kemudian ia cari cara lagi. Mulai dari mengikuti trend boyband girlband, joget-joget sambil nyanyi hingga ia nyaris cedera karena joget heboh. Ia lupa bahwa ia kecoa, yang jika terbalik tubuhnya akan membuatnya menggelepar tak berdaya. Ia juga berdandan ala manusia, menyelipkan sejumput rambut di sela-sela sungutnya dan memakai baju, ahh tidak! Mana ada kecoa pakai baju. akan sangat sulit menjahit baju untuk kecoa. Dia bukan manusia yang bisa memakai baju model apapun. Ya! Dia bukan manusia. Dia hanyalah seekor kecoa. Zorro sadar bahwa kriteria keren yang selama ini dilihatnya di televisi hanya untuk manusia, bukan untuk seekor kecoa sepertinya. Karena definisi dan kriteria keren berbeda di setiap makhluk, bahkan sesama manusia sekalipun. Bahwa keren adalah ketika kau nyaman dengan apa yang kau pakai, bukannya malah menyiksa diri. Keren adalah ketika kau bangga menjadi dirimu sendiri, menjadi siapa kamu!~

***Blogreader yang baik selalu meninggalkan jejak (komeng/komentar) :)

2 komentar:

  1. Konsep ceritanya bagus, kayak rico de corro-nya dee. hehhehe
    pesan critanya kereen !!! jadi inspirasi buat ane nulis,hhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, iyaaa. emang terinspirasi dari dee sih. hehehe

      Hapus