Sabtu, 01 November 2014

Saya Pinjam Jodohmu

Saya berharap pacar atau orang yang saat ini saya suka adalah jodoh saya. Tapi jika tidak, saya tidak akan memaksa karena saya tidak ingin jika jodoh saya nantinya juga ditahan pacarnya yang sekarang. Jadi saya berdoa, seandainya orang ini jodoh saya, lancarkanlah hubungan kami. Seandainya tidak, kepada jodoh dari pacar saya ini, saya pinjam jodohmu ya? Untuk sebentar saja. Dan untuk pacar jodoh saya sekarang, saya kasih pinjam kamu untuk sementara. Tapi jika nanti waktumu sudah habis, kembalikanlah dia. Karena ketika kamu tidak mengembalikannya, sama saja kamu menghambat kedatangan seseorang yang sebenarnya telah digariskan menjadi jodohmu. Intinya, kita hanya saling pinjam meminjam jodoh. Tertukar untuk sesaat, sebelum pada akhirnya berlabuh pada kita. Hanya tinggal menunggu waktu saja :)

Sabtu, 20 September 2014

September...

I met you in the city of the fall 
One September night 
We sat down on the table near the wall 
Where conversation flows

I wonder if I could stay for a while 
You see, its been a while since I felt this way 
But, we both now time is closing in 
Till I’ll be gone, you’ll be too 
On the night I saw you walked away

Well I left you in the city of the lights 
That breeze September night 
We walked down the road to the end 
I wish the time stood still

Still I wonder if I could stay for a while 
You see, its been a while since I felt this way 
But, we both now time is closing in 
Till I’ll be gone, and you’ll be too

On the night I saw you walked away 

So, I should stay, for a while 
You see, it’s been a while since I felt this way 
But, we both now time is closing in 
Till I’ll be gone, you’ll be too 
On the night I let you walked away

I met you in the city of the fall 
One September night
(Adhitia Sofyan - September)


Lagu ini membuat saya sadar bahwa September tahun ini tidak akan pernah sama dengan September di tahun yang telah lewat. Bahkan di bulan yang sama, hanya dengan tahun yang berbeda, keadaan bisa berbalik 180 derajat, berlawanan arah, menjungkir balikkan saya dengan perasaan yang abu-abu, abu dimana kenyataan tahun lalu berbanding terbalik dengan kenyataan sekarang, hanya dalam kurun waktu setahun. Beginilah hidup, kita tidak akan tahu apa yang terjadi tahun depan. Mungkin terlalu jauh jika kita membandingkan dengan tahun depan, apa yang terjadi detik berikutnya saja kita tidak tahu.

 And I wish the time stood still...

Rabu, 17 September 2014

Life is About ACCEPTING

Someday you'll realize that there's no other choice besides accepting what you can't change...

Pernah pengen banget potong rambut? Entah karena ngerasa rambut udah kepanjangan, model rambut yang udah oldish, ngikutin trend rambut yang baru, pengen keliatan fresh atau karena depresi selepas putus cinta?! Maka, entah dengan alasan apapun pokoknya kita pengen ke salon atau tukang cukur. Dengan segenap motivasi tadi, pergilah kita ke tukang potong rambut atau ke salon. Kita sampaikan apa yang kita inginkan atau biar lebih gamblangnya kita tunjukkan gambar dari model rambut impian. Kemudian tangan-tangan tukang cukur menari dengan indah, mengadu gunting dan sisir di antara helai rambut, kemudian voila! Jadilah kita dengan tampilan rambut baru. Sesaat kita lihat pantulan diri di kaca. Ya kalo beruntung, kita akan mendapat hasil yang bagus. But mostly, kita lebih merasa menyesal telah merelakan beberapa senti rambut kita demi model baru yang nampaknya kurang worth it untuk kita (setidaknya itu yang saya rasakan tiap kali potong rambut). Mendadak kita merasa jelek hanya karena poni yang kependekan atau potongan rambut yang kurang sesuai. Perasaan ini makin aneh ketika orang-orang dengan santainya melemparkan kritik secara langsung terhadap tampilan baru kita. Jadilah kita yang tadinya niat potong rambut biar keliatan fresh atau buang sial atau melepas depresi, jadi malah sial kuadrat atau depresi kuadrat. Kita sibuk menyembunyikan potongan rambut, entah dikucir atau disembunyikan di balik topi. Jadi super duper nyesel pernah potong rambut!
 
Tapi pernah juga nggak, kamu ngerasa beberapa bulan setelah potong rambut, ketika rambutmu sedikit demi sedikit mulai panjang, kamu mulai menemukan pola potongan yang kamu inginkan, Poni yang tadinya kependekan jadi lebih pantas menghiasi dahi, rambut yang tadinya pendek dan tak beraturan mulai memanjang dan menemukan alurnya. Kalo saya sih sering ngrasa gitu. Bulan awal setelah potong rambut adalah saat paling berat untuk menyesuaikan diri dengan komen-komen orang di luar sana, momen penyesalan mendalam atas keputusan untuk potong rambut. Tapi beberapa bulan kemudian, saya mulai menemukan bahwa saya mulai nyaman dengan potongan ini. Kadang malah potongan rambut yang awalnya saya anggap gagal, mulai terasa sesuai dengan model yang awalnya saya inginkan. Kemudian saya bilang, nah ini yang saya mau!

Dan saya rasa seperti itulah hidup. Kadang perubahan baru dalam diri kita, yang kadang kita sendiri yang menginginkannya (seperti potong rambut) malah membuat kita menyesal, membuat kita depresi dan membuat kita kesulitan untuk menyesuaikannya. Tapi hidup adalah soal bagaimana kamu mau menerima dan beradaptasi dengan semesta, dengan apa yang ada di sekitar kita, lengkap dengan ke-kompleks-an masalah yang ada di dalamnya. Mungkin awalnya kita akan sulit menerima, apalagi kalo perubahan itu karena kita sendiri yang menginginkannya. Udah sulit adaptasi ditambah penyesalan yang luar biasa. Tapi suatu saat, seiring berjalannya waktu, ketika kita sudah mulai terbiasa dan menerima, kita akan sadar bahwa perubahan yang kita alami akan membawa kita pada hidup yang lebih baik dan tujuan yang kita inginkan. Kadang mencapai keinginan tak semudah dan seinstan potong rambut sesuai model yang kita mau - pergi ke salon - dipotong - kemudian jadilah kita dengan potongan rambut baru sesuai yang kita idamkan. Kadang kita harus melalui masa sulit dulu, masa penyesuaian dan penyesalan akibat keputusan potong rambut yang justru malah memperburuk penampilan kita. Sampai suatu saat, kita akan tiba pada titik dimana kita mulai menemukan bahwa kegagalan tadi akan perlahan berubah dan membawa kita pada tujuan yang kita inginkan. 

Intinya, semua adalah soal waktu. Soal bagaimana kita mau menerima perubahan, mengikuti pola yang telah diciptakan oleh waktu, menyesuaikan, sampai pada saat dimana kita mulai terbiasa dan perlahan menerima keadaan. Ya, karena salah satu cara menikmati hidup adalah dengan membiasakan diri mengikuti alurnya dan menerima apa yang telah disediakan semesta, termasuk masalah kompleksnya. Karena kalo kita nggak bisa mengubah jalan yang sudah diciptakan, tak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain belajar beradaptasi dan menerimanya :)

Rabu, 03 September 2014

Sebuah Ode untuk Bintang

Sudah hampir separuh tahun saya tinggal di kota ini. Induk dari segala kota besar di negeri tempat saya lahir dan tinggal. Sudah hampir separuh tahun juga saya kehilangan langit malam yang menyejukkan, yang ada hanya langit malam nan terang tanpa bintang, hitam kemerahan terpapar gugusan gemerlap bola listrik yang menerangi tiap penjuru kota. Terang buatan itu menghalangi kedipan bintang yang mampu menghasilkan gradasi warna nan kontras pada langit malam. Bagi saya, langit malam tetaplah gelap tanpa bintang, meskipun puluhan bola listrik memerahkan gelapnya. 

Bintang sempat muncul beberapa bulan awal saya tinggal. Hadir setiap malam, mengantar saya tidur dengan sesekali membisikkan ucapan selamat malam nan mesra lewat hembusan lembut angin malam yang dua kali lipat lebih berbahaya dari kota asal saya, akibat tercampur gas emisi kendaraan bermotor yang memenuhi sepanjang jalan arteri ibukota tiap harinya. Ia hadir meskipun terangnya tak secemerlang ketika saya masih sempat memandangnya lama ketika saya masih punya banyak waktu untuk menikmatinya di kota kelahiran saya. Dan aktivitas yang tiada henti menjejali daftar kegiatan harian saya, terkadang membuat saya tak lagi bisa sesering mungkin menatap bintang. Jangankan menatap, berjumpa saja tak ada waktu. Ditambah ya itu tadi, gemerlap lampu kota menyamarkan kehadirannya.

Bulan awal pun berlalu. Rutinitas yang membosankan namum harus saya kerjakan mulai menyita waktu. Hingga suatu malam dan diikuti malam-malam berikutnya, ketika saya berjalan gontai menyusuri jalan pulang, saya sadari bahwa bintang itu telah hilang dari peredaran, tergantikan oleh cahaya palsu dari ribuan sinar lampu. Ia lenyap menyisakan langit malam yang gelap. Saya tak lagi bernafsu menatap langit malam yang tak lagi menarik tanpa hadirnya bintang. Langit malam hanya serupa kelambu gelap nan membosankan yang menyelimuti tidur malam saya. Malam saya hampa tanpa bintang, berlalu begitu saja, tak ada kedipannya yang menggoda, tak ada bisikan selamat malamnya nan mesra, tak ada rasa damai yang hadir melalui sinarnya yang menghangatkan. Saya juga tak mengerti, kenapa perkara bintang saja saya bisa segila dan sehampa ini. 

Apa saya harus pulang supaya bisa menatapnya? Tapi rupanya sama saja, saya tetap tidak menemukannya di langit malam kota asal saya. Mungkin dia memang tidak ingin menampakkan wujudnya, di tempat dimana saya ada. Mungkin ketika saya pulang, ia bersinar di ibukota yang saya tinggalkan untuk sesaat. Dan akan bersinar di kota asal saya jika saya kembali ke ibukota atau bersinar di tempat lain dimana saya tidak ada di sana. Mungkin ia ingin menghindari tatapan mata sayu saya. Mungkin ia lelah mendamaikan saya yang kadang lupa bahwa ia ada. Atau mungkin ia bosan saya tatap terus-terusan tiap malam. Entahlah, hanya bintang yang tahu.

Kemudian pada suatu pagi yang gelap, saya berjalan menyusuri gang. Ada misi dan pekerjaan yang harus saya selesaikan segera sehingga saya harus berangkat sepagi buta itu dan menempuh jarak puluhan kilometer untuk menjangkaunya. Mata saya masih belum terbuka sempurna. Bayangan akan pelukan hangat kasur dan uba rampenya masih terasa erat mendekap saya. Terlebih karena semalam saya bermimpi dapat menatap bintang kembali. Pikiran saya pun tak henti memutarnya, merangkai kepingan itu agar tak hilang, kau tau sendiri, kadang mimpi hilang begitu saja kalau kita berhenti mengingatnya. Bayangkan, mimpi saja bisa membuat saya bahagia, apalagi kalau bisa benar-benar memandangnya lagi. Hingga kesadaran saya mendadak sempurna, atau mungkin saking tidak sadarnya, saya jadi melihat pemandangan pagi yang luar biasa, yang seolah hanya ada di angan saya. Mimpi saya seolah nyata! Saya kembali melihat bintang! Bertebaran di antara peralihan langit malam hari menuju pagi. Gigitan udara pagi yang dingin menyadarkan saya bahwa ini bukan mimpi! Saya kembali melihat langit penuh bintang yang telah lama menghilang. Hangatnya kedamaian mulai menyusup dan mengalir melalui darah saya. Tenang, damai, hangat, perasaan yang selalu hadir tiap saya menatapnya. Namun pertanyaan muncul dalam benak saya, kenapa ia masih ada sepagi ini? Kenapa ia tidak muncul saat malam saja? Ahh, kadang bintang memang senang hadir sesukanya. Bukan masalah, yang penting saya bisa melihatnya lagi.

Sepanjang gang, saya tak henti menikmati hadirnya yang sebentar lagi tergantikan oleh sinar yang membuat bintang jadi terlihat terang. Bintang itu masih berkedip seolah tersenyum, entah untuk siapa. Memang selalu begitu, bukan? Sebentar, sebentar. Ia tersenyum entah untuk siapa? Berarti ia tersenyum belum tentu untuk saya? Mungkin saja senyumnya untuk yang lain yang juga sedang menatapnya, sama seperti yang saya lakukan. Mungkin saja hadirnya bukan untuk saya, tapi untuk orang lain yang juga sedang menunggu keumunculannya, mungkin saja. Ahh, sudahlah. Sudah lelah saya menerka kehadiran bintang pagi itu dan malam-malam kemarin. Saya rasa saya memang tak lagi bisa memiliki bintang seperti dulu, atau memang sejak dulu saya tak memilikinya. Saya mungkin bisa merasa bahwa ia milik saya dan begitu juga orang lain, tapi nyatanya memang saya tak benar-benar memilikinya. Biarlah ia bebas hadir kapan saja, biarkan juga saya bebas merindukan kehadirannya, menatapnya ketika ia ada walaupun ia hadir bukan untuk saya...




**Teruntukmu, Bintang Jatuh...

Jumat, 15 Agustus 2014

Bersinarlah dalam Gelap!

Kamu adalah sinar yang akan terpancar bila dalam kegelapan
Kamu adalah terang yang tak kan benderang bila gelap tak datang
Itulah kenapa Tuhan meletakkanmu dalam gelap
Agar cahayamu kian gemerlap


Kadang kita seolah merasa bahwa Tuhan begitu tega menghadapkan kita pada situasi yang sulit, pada masalah yang seolah tak mampu terpecahkan, seolah kita berada dalam kegelapan sehingga kita tak mampu melihat adanya titik terang atau jalan keluar. Semuanya gelap, langkah kita terseok dan pikiran kita diliputi rasa takut. Tanpa kita sadari bahwa tujuan Tuhan meletakkan kita pada suatu 'kegelapan' adalah agar kita mampu memunculkan cahaya dan bersinar sehingga kita mampu keluar dari kegelapan tersebut. Karena sinar kita tak kan berbinar jika kita tidak berada dalam kegelapan. Karena terang kita takkan gemilang di antara terang yang lain. Itulah sebabnya Tuhan meletakkan kita dalam gelap, agar kita mampu bersinar gemerlap...

Rabu, 13 Agustus 2014

Let It Go

Segala sesuatu itu ada masanya, ada waktunya dan ada saatnya. Ibarat kue, minuman atau makanan yang tentu ada batas waktu untuk dimakan. Pernah terbayang apa yang terjadi apabila makanan yang sudah lewat batas waktu kadaluarsanya itu kita paksakan untuk dimakan? Tentu makanan yang sudah lewat kadaluarsanya tersebut akan membuat kita sakit, entah itu sakit perut, pusing, mual, atau segala bentuk sakit lainnya. Sama dengan apa yang ada di sekitar kita, apa yang kita miliki. Tuhan sudah menentukan batas waktu kepemilikan kita dan kapan sesuatu itu akan datang serta kapan ia akan pergi. Kebayang kan kalo kita tetap memaksa untuk memiliki dan bersama dengan sesuatu yang sebenarnya sudah seharusnya pergi atau ingin pergi? sesuatu yang sebenarnya sudah habis batas waktu dan tidak layak ada alias kadaluarsa, tentu sakit yang akan kita rasa ketika menahan sesuatu yang ingin pergi. Kecewa, kehilangan harapan karena penolakan yang ada, akan menjadi konsekuensi dari memaksakan kehendak untuk tetap mempertahankan sesuatu yang ingin pergi dan sudah habis masanya.


Hal tentang memiliki saya analogikan seperti kita yang meminjam sesuatu pada yang punya. Ia sudah mempercayakan apa yang ia miliki untuk dipinjamkan dan dititipkan pada kita, tugas kita adalah menjaga dan merawatnya. Kemudian ada saat dimana sang pemilik meminta kembali apa yang sudah dititipkan dan dipinjamkannya. Entah karena sudah waktunya sesuatu itu untuk kembali sesuai dengan kesepakatan awal atau karena kita kurang baik menjaganya sehingga lebih baik sang pemilik mengambilnya lagi. Sama halnya dengan relasi kita dengan Tuhan dan makhluk ciptaannya. Tuhan adalah sang empunya segalanya dan kita hanya manusia yang diberi titipan oleh-Nya. Kita diberi kesempatan untuk menjaganya dengan baik, untuk memilikinya dalam waktu tertentu hingga tiba saat Tuhan mengambilnya dan menjauhkannya dari kita.

Intinya, kita tidak pernah benar-benar memiliki sesuatu di dunia ini dan seperti apa kata saya di awal, apa yang kita miliki tentu ada masanya. Akan tiba saat dimana Tuhan, yang berhak atas segala yang kita punya, harta - orang tersayang, termasuk nyawa kita, diambil oleh-Nya yang berkuasa atas kita. Dan itu berarti adalah saat dimana kita harus belajar ikhlas dan dengan rela membiarkannya pergi. Mau gimana lagi? Emang masanya aja yang udah abis dan sudah waktunya Tuhan mengalihkannya dar kepemilikan kita. Karena, titik tertinggi dari memiliki justru adalah saat dimana kita dengan rela dan ikhlas membiarkannya pergi serta berbahagia dengan pilihannya. Kedewasaan dan ego kita diuji di sini. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita untuk menahan sesuatu yang ingin pergi, memaksakan kehendak kita adalah wujud egoisme. Merelakan sesuatu yang sudah seharusnya pergi dan membiarkannya berbahagia bersama yang lain adalah wujud kedewasaan kita, wujud dimana kita juga memikirkan kebahagiaan orang lain dan mengabaikan ego kita. Justru di titik inilah kemenangan sejati ada pada kita, dimana kita bisa ikhlas, rela menanggalkan ego kita demi kebahagiaan orang yang kita sayangi. Karena kita harus mengikhlaskannya pergi jika memang dia bukan untuk kita, karena dia sudah digariskan untuk bersama orang lain. Nggak mau kan, sesuatu yang seharusnya kamu miliki kelak, ternyata gagal atau tertunda untuk kamu miliki, hanya karena sesuatu itu ditahan oleh pemilik lamanya agar tetap bersamanya. Ingatlah, bahwa apa yang tidak digariskan menjadi milik kita adalah apa yang seharusnya dimiliki orang lain. Lepaskanlah, karena nantinya juga kamu akan digariskan dengan yang lain juga. Karena penahananmu tak hanya menghambatnya tetapi juga menghambat dirimu sendiri untuk bertemu sesuatu yang memang Tuhan ciptakan untukmu. Ikhlas dan rela, meskipun sakit, sulit dan pahit, tapi pasti akan ada yang terbaik yang datang untukmu. Karena kita nggak bakal tahu rasanya manis kalo belum ngrasain pahit dan kita nggak akan jadi semakin kuat kalo kita belum ngrasain sakit. Be strong!



**written to motivate myself to let go of something that I can't have...

Jumat, 25 Juli 2014

Finding Your Destiny

Karena cari pasangan hidup itu kayak adegan sinetron. Tuhan sutradaranya dan kita pemainnya. Ada yang sekali take aja udah bagus dan langsung bisa tayang, ada yang perlu berkali-kali take atau ganti pemain buat mendapatkan adegan pas yang sutradara inginkan dan yang sesuai dengan peran aktor aktrisnya. Sama halnya dengan cari pasangan hidup. Ada yang sekali pacaran langsung nikah, ada juga yang perlu berkali-kali pacaran untuk menemukan pasangan hidupnya. 

Cari pasangan hidup juga kayak kita yang mau pergi ke suatu tempat. Ada yang sekali jalan kaki atau naik kendaraan aja udah sampai di tempat tujuan. Ada juga yang mesti muter-muter dulu, ganti-ganti kendaraan dulu buat sampai di tujuan. Sama halnya kayak cari pasangan hidup. Kadang ada yang sekali dipertemukan dan berujung di pelaminan, ada juga yang mesti berkali-kali pacaran, muter sana muter sini, sampai akhirnya ketemu orang yang digariskan Tuhan untuk menemani kita sepanjang hidup.

Intinya, looking for your destiny is about how to enjoy the journey, how to get up when you failed, how to take a lesson from your failure and how to enjoy every scene in your life. Just believe that God is a good director. Do your best and let God do the rest!

Sabtu, 12 Juli 2014

Emptiness

Do you ever feel so sad? That feeling when your chest aches and your heart beats but you just feel so EMPTY...
Empty like you're nothing and your life is nothing. Then you feel like everything would be better if you could just dissapear for a while...
Do you feel like that?
That's how I usually feel...


Rabu, 09 Juli 2014

Hati-hati dengan Kata SELAMANYA...

Hati-hati dengan kata SELAMANYA karena ucapan adalah doa. Jangan karena dibutakan oleh cinta, terus kamu bilang "Aku cinta kamu SELAMANYA" atau "SELAMANYA kamu akan jadi inspirasi dalam hidupku". Karena SELAMANYA berati ya SELAMANYA. Lebih lama dari lama dan lama dan lama. Selamanya adalah lama kuadrat tak terhingga. Kebayang kan berapa lamanya? Kebayang juga nggak waktu kamu ngomong aku cinta kamu selamanya? Iya kalo yang kamu cintai juga mencintai kamu selamanya. Lhah kalo nggak? Kamu akan terus mencintai dia sementara dia udah berhenti cinta kamu atau emang dari awal udah nggak cinta sama kamu. Ya terus aja stuck di cinta kamu yang selamanya itu. Kamu bakal susah moveon padahal dianya udah berbahagia dengan pasangannya. Sementara di hadapanmu ada yang lebih baik yang berseliweran, ada orang-orang yang lebih pantas untuk jadi inspirasimu, tapi kamu melewatkannya, menyia-nyiakannya karena udah terjebak dengan kata SELAMANYA tadi. Makanya, ucapkan kata selamanya seperlunya aja. Ucapkan aku cinta kamu selamanya dengan sadar di hadapan Tuhan, ketika hubunganmu dengannya disahkan di hadapan Tuhan dan biarkan Tuhan yang memisahkan janji SELAMANYA-mu itu...

Kamis, 26 Juni 2014

Some people work too hard, spend all their time and energy to collect much money. Then, they sick because they work too hard. And finally, they spend almost all of their money that collected from their hard work, to pay and recover their sickness. So ironic...


Rabu, 25 Juni 2014

Cinta itu ibarat antibiotik. Itulah alasan kenapa 'jatuh' cinta itu nggak sesakit jatuh dari motor atau jatuh dari pohon. Karena variabel cinta lebih kuat dari jatuhnya. Karena cinta ibarat antibiotik yang menawarkan rasa sakit. Dan itulah kenapa ketika kita merasa sudah nggak ada cinta dari orang yang kita cinta, tinggal sakitlah yang kita rasa. Karena efek cinta yang dapat menghilangkan rasa sakit seperti antibiotik, mulai menghilang seiring berkurangnya cinta dari orang2 yang kita harapkan, dari orang2 yang dulunya membuat kita jatuh cinta...

Sabtu, 07 Juni 2014

Save the Best for the Last

Pagi tadi saya menikmati sarapan pagi dengan seporsi bubur ayam bersama seorang teman saya di ruang makan kosan. Ada sedikit perkataan teman saya dari sekian panjang percakapan yang kami ucapkan selama menikmati seporsi bubur ayam hangat nan nikmat yang tandas kami lahap sekejap pagi tadi. Berawal kebiasaan saya yang setiap makan selalu lauknya dimakan di akhir. Padahal lazimnya, lauk dimakan dengan nasi dan uba rampenya. Jadi nasi habis, lauk juga habis. Nah, saya beda. Nasi habis duluan saya makan dengan sayur atau kerupuk. Bagian enaknya, entah itu lauk ayam, daging sapi, sosis, bakso, ikan, dll, selalu saya makan belakangan. Apapun yang saya anggap enak, selalu saya makan belakangan. Saya sendiri juga tidak menyadari dari mana datangnya kebiasaan itu dan sudah sejak kapan saya mulai. Saya selalu berpikiran bahwa yang nggak enak dulu yang dimakan, yang enak belakangan. Semacam pepatah lama yang berbunyi berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Susah dulu, bagian yang nggak enak dulu, sakit dulu, baru senang kemudian. Kadang saking isengnya, temen-temen saya dulu suka nyerobot bagian enaknya ketika saya belum selesai menandaskan bagian nggak enaknya. Mereka suka kesel dengan cara makan saya yang aneh bin ajaib itu. Anyway, setelah sekian lama kita makan bersama dan dia mulai sadar kebiasaan saya, dia akhirnya berani menanyakan kenapa lauk selalu saya makan di bagian akhir. Kemudian saya jawab dengan penjelasan di atas. Sampai tibalah dia pada satu kalimat yang singkat namun bermakna "save the best for the last ya?" yang kemudian saya iyakan saja.  

Ya, dia pikir saya adalah penganut ungkapan "save the best for the last". Dimana yang terbaik itu dinikmati di bagian akhir, bagian paling enak itu dinikmati belakangan dan bahwa yang terbaik kadang datangnya belakangan. Susah susah dulu lah, sakit-sakit dulu lah, baru kau bisa dapat yang terbaik. Saya jadi curiga bahwa Tuhan juga memegang teguh kalimat "save the best for the last" tadi. Karena kadang Tuhan juga kasih kita bagian nggak enak dulu di awal, Dia kasih kita cobaan, masalah dan rintangan serta part dalam hidup yang nggak kita suka dan seolah pengen kita skip, sampai akhirnya kalo kita kuat berenang sampai ke tepian kayak kata pepatah, kita akan dapatkan hal terbaik yang Tuhan janjikan. Kalau dalam bahasa Jawa "lakon menang keri" yang kalo ditranslate dalam bahasa Indonesia artinya "orang baik itu menangnya di akhir". 

Saya rasa ungkapan "save the best for the last" juga berlaku untuk yang lagi cari jodoh. Tuhan menyimpan jodoh yang terbaik untuk kita itu di akhir. Meskipun kadang kita udah lelah berkali-kali pacaran, berkali-kali kenalan, berkali-kali deket, yang senengnya cuma sebentar doang, trus sakit kemudian. Entah sakit karena diduain atau ditigain, sakit karena perpisahan yang pahit, dan lain sebagainya. Bayangin aja buat yang pacaran udah lebih dari lima kali, mereka harus  berkali-kali melewati siklus percintaan yang monoton: naksir - pedekate - jadian - mulai muncul masalah - galau - putus - galau kuadrat. Siklus yang manis sebentar dari fase jatuh cinta sampe awal jadian, lalu jadi derita beberapa bulan kemudian. Capek hati, capek pikiran, capek tenaga. Seakan-akan saking putus asanya, rasa-rasanya kayak nggak mau pacaran lagi kalo endingnya selalu putus. But if you never try, you'll never know. Ya, nggak ada salahnya mencoba kesempatan yang ada. Kita ibarat pelari dan Tuhan adalah jurinya. Juri misterius yang nggak mau kasih tau dimana garis finishnya. Kalo kita berhenti berlari, kita nggak akan akan tahu dimana garis finish itu berada. Tapi kalo kita terus berlari, entah kapan pasti akan ketemu juga. Intinya kalo lagi capek lari, ya berhenti bentar, bukan berarti kamu harus berhenti selamanya. Seperti itu juga soal cari jodoh, kita nggak akan tahu kalo kita nggak mencoba.

Bah! Dari sarapan bubur ayam, trus "save the best for the last" kenapa sampe ke perjodohan nih, nggak nyambung banget, mwahahahaha! Intinya sih, Tuhan udah menyimpan dan menyiapkan (jodoh, karir, dll) yang terbaik untuk kita di akhir nanti. Dan kadang yang terbaik itu datengnya belakangan, kita mesti ketemu yang jelek-jelek dulu, yang susah-susah dulu, ketemu masalah dulu, baru yang terbaik akan datang untuk kita. Baiklah, saatnya saya menutup posting yang super duper teramat panjang dan nggak nyambung ini daripada yang baca tambah pusing. Thank you for reading my post :)

Selasa, 13 Mei 2014

Hope, Hurts, Heart

Pernah merasakan sakit hati yang luar biasa? Yang saking sakitnya sampai rasanya begitu sesak dan jauh lebih sakit dari luka fisik. Rasa sakit yang sepertinya terletak jauh di dalam dada, jauh menembus tulang iga dan saking jauhnya hingga kita tidak tahu tepat letaknya. Tapi begitu dahsyatnya sakit itu hingga meskipun kita tidak tahu letaknya, kita tetap mampu merasakannya. Sakit yang membuat kita berpikir, kenapa orang ini tega melakukan hal ini pada kita? Kenapa ia tega melakukan hal yang menimbulkan reaksi sakit hati? Tapi saya rasa, terkadang rasa sakit yang kita alami bukan karena orang itu memang sengaja menyakiti kita. Bukan, Tapi karena begitu besarnya harapan kita pada orang itu, hingga sedikit saja sikap orang tersebut jauh dari harapan kita, maka kita akan merasakan kekecewaan yang tak terkira, kecewa yang menimbulkan rasa sakit. Semakin dalam harapan kita, semakin dalam rasa sakit kita ketika orang itu berbuat jauh dari apa yang kita inginkan dan apa yang kita harapkan. Ya, terkadang harapan bisa jadi duri dalam daging kita sendiri. Harapan bisa menjadi pedang yang menghunus diri sendiri. Ya, sudah saatnya kita hati-hati dengan harapan...

Kamis, 08 Mei 2014

Face for First Impression VS Attitude for Long Lasting Impression

Ada banyak orang bilang bahwa penampilan itu penting. Tampilan fisik, terutama wajah jadi impresi yang ditangkap ketika pertama berjumpa dan kadang orang langsung menilai sosok yang pertama dijumpai dari tampilan fisiknya, apa yang sekilas ditangkap oleh indra penglihatannya. Oleh sebab itu, orang-orang berlomba dan tak segan mengeluarkan banyak hasil kerjanya untuk memperbaiki wajah, penampilan, merawat diri, dari ujung rambut sampai ujung kaki, memperindah penampilannya dengan berbagai aksesoris bervariasi untuk memberikan impresi yang menarik seseorang ketika pertama bertemu dengannya. Ya, penampilan memang penting. Wajah rupawan juga patut disyukuri.

Tapi tak selamanya penampilan menarik atau wajah yang tampan dan cantik dapat membuat seseorang terkesan. Wajah dan penampilan hanya menarik seseorang pada beberapa detik pertama, selanjutnya, terserah anda. Ya, selanjutnya bukan lagi wajah atau penampilan kita yang akan dinilai tapi adalah sikap kita, bagaimana kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita dan bagaimana kita berinteraksi dengan mereka. Akan sangat luar biasa jika penampilan menarik dan wajah rupawan didukung dengan sikap kita yang baik. Namun akan terasa sia-sia penampilan dan wajah rupawan anugerah dari Tuhan jika selanjutnya sikap kita atau cara kita memperlakukan orang di sekitar kita tidak sebaik apa yang kita kenakan atau seindah wajah kita. Kesan baik kita hanya muncul saat pertama. Padahal sikap dan perlakuan baik kita akan terus diingat.
Saya banyak sekali dikecewakan atau 'kecele' dengan penampilan seseorang. Kadang seseorang yang saya anggap cantik atau tampan ternyata memiliki sikap yang kurang menyenangkan, tidak se-menyenangkan ketika saya memandang wajahnya. Sedangkan orang yang memiliki wajah biasa saja atau tidak setampan dan secantik mereka yang dianggap tampan dan canrik, kadang memiliki sikap yang baik dan tahu bagaimana cara memperlakukan seseorang. Dan saya lebih terkesan dengan orang-orang seperti ini, yang meskipun mereka kurang rupawan dan berpenampilan biasa saja, tetapi mereka memiliki sikap yang luar biasa dan secara tidak langsung menutupi kekurangan mereka dari segi fisik dan penampilan. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja yang merasa atau dipandang kurang secara fisik dan penampilan atau memiliki keterbatasan baik dari segi dana maupun dari segi lainnya untuk memperbaiki fisik dan penampilan. Pelajaran yang dipetik adalah tidak menjadi suatu masalah jika kalian kurang cantik atau kurang tampan, atau tampilan kalian sederhana, yang terpenting adalah bagaimana sikap kalian. Kekurangan fisik serta penampilan bisa diperbaiki atau ditutupi dengan sikap baik tersebut. Karena kita tidak akan bisa merubah wajah atau bentuk fisik kita (kecuali kalian rela menghabiskan sebagian besar penghasilan kalian untu merombaknya), tetapi kita bisa mengubah sikap kita. Kalau ada cara mudah untuk bisa menutupi kekurangan fisik kita (dengan sikap baik kita), kenapa kita harus bermahal-mahal mengeluarkan biaya untuk menutupi kekurangan kita? Dan satu lagi cara lebih murah untuk memperbaiki wajah, SENYUM! Ya, senyum adalah lengkungan yang meluruskan segala hal. Senyum adalah seberkas guratan hangat  di wajah yang mencairkan dinginnya suasana. Senyum akan memperbaiki wajah kalian secara cuma-cuma dan akan memperindah wajah kalian, tidak peduli seburuk apapun wajah kalian, tidak peduli apakah kalian mengenakan tidak makeup atau belum mandi, senyum akan memperindah wajah kalian :)

Selasa, 06 Mei 2014

Living In A 'Hectic City'

Hectic City. Jakarta. Sama sekali nggak menyangka kalo tempat saya baru saja diterima kerja, memilih saya  untuk ditempatkan di kantor pusat. Tapi emang saya pernah bilang sama seseorang kalo saya punya feeling bakal hidup di kota ini. Taunya malah beneran. Dan aktivitas di kota hectic ini serta ketiadaan akses internet di kos membuat saya vakum sekian lama dari dunia per-blogging-an. Selain itu, pekerjaan seolah menyita waktu saya. Setibanya di kos, saya lebih memilih untuk mandi, makan dan tidur. Begitu seterusnya. Bahkan weekend yang dulunya biasa saja, kini jadi terasa luar biasa dan sangat berharga tapi juga berlalu dengan cepatnya. But anyway, mumpung lagi santai, ada waktu dan ada ide serta koneksi internet. Saya akan share sedikit gambaran kehidupan saya selama (baru) sebulan di kota yang ruwetnya ngalahin benang kusut. Meskipun baru sebulan di sini, saya udah banyak banget ditabok sama kerasnya kehidupan di Jakarta. Shock culture? Pasti! Tapi udah nggak kaget-kaget banget sih. Soalnya udah banyak denger cerita dari orang-orang yang udah lama tinggal di sini. Dan saya akan membagi pelajaran yang saya terima dalam beberapa poin-poin...

1.       Time
This hectic city makes me feel like I’m living in another dimension. Jakarta membuat saya merasa seperti tidak tinggal di bumi, tapi di planet Merkurius yang dekat dengan matahari dimana setahun rotasi dalam planet ini hanya berlangsung 59 hari. Dan ternyata bukan Cuma saya yang merasakan cepatnya perputaran waktu di Jakarta, tapi juga teman sesama perantau lainnya. Dari yang bangun pagi, udah malem lagi, trus tidur, eh udah pagi lagi. Kayaknya baru kemarin ketemu weekend, eh ini udah ketemu lagi. Kalo saya pikir sih mungkin karena di Jakarta, apa-apa serba cepet. Jadi waktu berlalu begitu cepatnya. Dan saya sebagai orang lelet, agak keteteran juga ngejar speed hidup orang-orang di sini.
Di Jakarta, waktu berlalu dengan cepatnya dan berjalan dengan ritme yang gitu-gitu aja alias monoton. Kalo di kota asal saya, waktu berjalan dengan nge-slow-nya. Sehari ya kayak sehari. Sehari adalah 24 jam. Pokoknya bener-bener bisa menikmati hidup meskipun kerjaan banyak dan sama sibuknya. Kalo di Jakarta, sehari juga 24 jam sih tapi rasanya berlalu begitu cepat. Kayak yang waktu 24 jam itu masih kurang dan pengen nambah lagi. Itulah kenapa waktu di Jakarta itu nggak Cuma berharga, tapi malah nggak ternilai harganya. Dan sebanyak apapun uang yang kita punya, tetap nggak bisa membeli waktu. Semacam kayak 24 jam waktu sehari kamu habiskan buat bekerja, tapi tetep hasil kerja 24 jam kamu nggak bakal bisa menambah 24 jam waktu lagi untuk hari yang sama.

2.       Lifestyle
Jujur aja, saya adalah anak kampung masuk kota. Dimana gaya hidup saya super duper sederhana dan apa adanya, kemudian dihadapkan dengan gaya hidup kaum Jakarta yang serba we-o-we, terutama dari segi penampilan dan gadget. Smartphone saya kelas low end dan di kota asal saya udah cukup bagus tapi di sini masih kalah sama gadget anak-anak SMA. Pokoknya yang kalo di busway atau di tempat umum, handphone saya kayak nggak ada harganya dibanding yang lainnya. Ya, saya rasa orang-orang di sini emang hidup buat lifestyle. Apapun yang terbaru dan lagi nge-trend, ikuti aja buat nambah gaya dan derajat penampilan. Mereka hampir seperti keranjang buah dan makanan yang di kantongnya terdapat bermacam semarphone bermerek buah dan makanan (such as apel, beri hitam, jelly bean, kitkat, dll).
Kadang saya berpikir berapa gaji mereka, sampai bisa ngikutin trend gadget dan beli itu gadget dengan harga lima juta ke atas. Apa semudah itu cari duit di Jakarta, sehingga semudah itu juga mereka keluarin duit sekian juta buat gaya dan ngikutin trend. Entahlahh...

3.       Biaya hidup
Ngomongin biaya hidup di Jakarta emang bikin nyesek. Di kota asal saya, duit jatah makan sehari di Jakarta yang Cuma dapet nasi tahu tempe (paling mentok ati ampela) aja bisa buat makan nasi ayam di sana. Ini udah saya tekan dengan nggak beli sarapan. Oh meeennn, bener-bener kota yang menguras dompet. Belum lagi biaya kos per bulan yang kalo di kota asal saya, biaya dua bulan kos di sini bisa buat kos setahun di sana dengan fasilitas yang sama. That’s why, Jakarta masuk dalam jajaran kota di Indonesia dengan biaya hidup paling top markotop mahalnya. Pokoknya bener-bener di sini mesti pandai-pandai berhemat dan mengatur keuangan. Kalo nggak, bisa bocor dan bloooong. Positifnya sih, saya jadi belajar irit, ngatur uang sedemikian rupa biar jatah segini nyukup buat makan sebulan. But someone give me an advice: ngirit sih boleh tapi jangan kebangetan. Sekali-kali manjakan diri, makan enak dikit kalo pas weekend. Asal jangan keterusan aja manjain diri.

4.       Prinsip
Kehidupan di Jakarta menguji prinsip yang kita pegang. Hal ini juga berhubungan dengan poin kedua tentang lifestyle. Mungkin saat ini saya bilang tidak mampu mengikuti lifestyle di Jakarta yang serba we-a-ha, saya tetap berprinsip untuk hidup sederhana dan apa adanya. Tapi bukan nggak mungkin, pengaruh lingkungan di sekitar saya akan menggerus tekad dan prinsip saya. Selain prinsip, iman kita juga diuji di sini. Kadang kesibukan kerja dan lelah setelahnya membuat kita lupa beribadah. Perkara lupa ibadah, sangat mungkin terjadi di sini. Orang waktu kita nganggur aja kadang bisa lupa ibadah, apalagi pas lagi sibuk. 
Ada beberapa pesan dari kadivre tempat saya rekrutmen sebelum kami (saya dan teman-teman dari divre kami) dilepas di Jakarta yang juga merupakan prinsip mendasar dan kadang dilupakan orang-orang yang udah terlalu larut dalam kesibukan Jakarta. Salah satunya adalah jangan pernah lupa sama orangtua! Kadang kesibukan membuat kita lupa sekedar untuk membalas sms ucapan selamat pagi dari beliau, sekedar telpon atau menerima telpon beliau. Soalnya mama saya itu tiap pagi sama malem nggak pernah lupa sms saya, sekedar nyapa & nanyain kabar. Waktu dikasih tau sih iya-iya aja, ngangguk dengan semangat. Tapi prakteknya berat juga. Intinya jangan pernah lupa sama orangtua. Kalian nggak bakal bisa jadi diri kalian yang sekarang tanpa beliau. Satu lagi pesan beberapa pegawai tempat saya OJT, tetep rendah hati, jangan hilangkan jati diri kalian sebagai orang dari daerah, unggah-ungguh tetep harus dijaga meskipun kami hidup di kota dengan culture yang berbeda.

5.       Pulang kampung
Jakarta membuat saya seperti terkena jebakan betmen, hahaha. Semacam bisa datang tapi nggak bisa pulang. Gimana nggak, baru juga mendarat di Jakarta, saya udah searching tiket kereta pulang untuk longweekend Maret. Taunya udah ludess semua! Jangankan tiket kereta buat longweekend akhir Maret, yang buat bulan April aja udah abis semua di jam-jam strategis. Meeennnn, akhirnya saya mengurungkan niat untuk pulang akhir Maret ini, padahal udah rindu banget sama rumah. Ini baru longweekend aja lho, belum ntar kalo libur Lebaran. Duuhhhh nggak kebayang gimana hecticnya cari tiket pulang.
Sekarang saya tau kenapa pas libur panjang atau libur Lebaran, orang rela beli tiket mahal-mahal, beli dari jauh-jauh hari, rela ngantri dari pagi dan rela bermacet-macet atau berdesak-desakan demi melihat kampung halaman. Ya, sekarang saya tau gimana rasanya jadi kaum urban yang merindukan kampung halaman. I know the reason why they tried so hard to come back home. Saya tau gimana beratnya memendam rindu pada orangtua dan saya rasa jauh lebih berat LDR-an sama orangtua daripada LDR-an sama pacar.

6.       Belajar mandiri
Hidup di Jakarta mengajari saya untuk belajar mandiri lebih keras daripada hidup di kota lainnya. Ya, kamu nggak bisa mengandalkan siapapun di Jakarta. Apalagi kalo nggak ada keluarga inti di sini. Kamu bener-bener harus bisa berdiri (nggak Cuma berdiri tapi juga jalan dan kalo perlu lari) dengan kakimu sendiri. Meskipun tertatih, jangan biarkan dirimu stag dan berharap ada bantuan dari oranglain. Jakarta keras bung! Hidup di Jakarta bener-bener ngajarin saya untuk nggak menggantungkan diri pada oranglain. Pokoknya harus lincah, aktif, cekatan dan berjuang sendiri demi mengejar speed orang lain yang udah jauh di depan kalian. Kalo di kota asal saya, situasi masih predictable lah, bisa diprediksi, orang-orang masih punya waktu dan tenaga buat bantuin kita. Di Jakarta, jangan berharap ada orang yang punya waktu dan tenaga buat nolong kamu, buat menopang diri mereka sendiri aja susah, apalagi buat nolong oranglain. Waktu dan tenaga mereka udah habis di jalan dan di kerjaan. Pokoknya di sini itu kayak saya ya saya, kamu ya kamu. Urusan saya bukan urusan kamu dan urusan kamu, ya urusin aja sendiri.

Well guys, that’s my little thoughts about living in Jakarta. Though it so hard, but I always try to hold on with this situation. Saya percaya bahwa dibalik ini semua, Tuhan punya rencana yang indah untuk saya. Dalam rencana-Nya, Tuhan mengajarkan saya untuk hidup mandiri dan belajar jauh dari rumah, dari orangtua, karena tidak akan selamanya kita bersama mereka. 

Kamis, 24 April 2014

Tentang Alergi Kepiting

Berawal dari kisah perjalanan dan pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di tanah Borneo demi mengemban tugas (wuidiiih, gaya bener) serta pengalaman pertama saya mencicipi kepiting asam manis. Karena saya adalah pecinta seafood, ajakan untuk makan kepiting tidak saya tolak (mumpung gratis juga, mhiihihi) dan itu merupakan kali pertama makan kepiting (ngakunya penikmat seafood tapi nggak pernah makan kepiting, payaah). Akhirnya, demi kepiting gratis yang kalo beli pake kocek sendiri cukup menguras kantong saya dan demi memuaskan rasa penasaran saya akan kepiting, saya pun makan dua macam kepiting yang disediakan: kepiting soka dan kepiting apa lagi saya lupa makannya. Setelah saya coba, ternyata enak juga. Oke, mission completed! Kepiting ternyata enak juga, yang nggak enak cuma bagian ngupasnya.

Akhirnya, saya masukkan kepiting dalam daftar makanan seafood favorit saya setelah cumi-cumi dan udang. Tapi apa yang terjadi sodara-sodara (musik mulai dibikin panik macam pemeran protagonis saling bertatap muka dengan pemeran antagonis dalam sinetron...) tengah malem saya terbangun karena sekujur badan saya gatal-gatal, bentol-bentol, merah-merah dan panas pula. Panik lah saya. Pikiran saya  mulai meracau kemana-mana. Jangan-jangan tadi handuknya ada ulet, jangan-jangan air buat saya mandi dikasih obat gatel-gatel, jangan-jangan saya kualat sama ini, jangan-jangan itu, pokoknya mulai macem-macem lah pikiran saya. Sampai tibalah saya pada titik pencerahan dimana saya mulai bisa berpikir jernih, bersih dan logis. Oh, mungkin saya alergi kepiting. Meski saya pikir nggak mungkin, karena biasanya saya makan udang dan cumi-cumi juga nggak pernah alergi. Dengan tangan kiri memegang hp dan tangan kanan sibuk garuk-garuk,  saya brosing dan googling mengenai alergi yang saya derita, Fix! saya alergi kepiting! Secara nggak logisnya, saya mungkin kualat sama si mister crab ini. Soalnya kepiting adalah lambang zodiak saya. Berani-beraninya saya makan simbol dan cerminan diri saya, sungguh kurang ajar nian kau nak! Mungkin roh kepiting yang saya makan bakal bilang begitu sambil melayang-layang di atas jasadnya yang sudah terpotong-potong dan disausin pula.

Saya habiskan malam itu dengan gelisah garuk-garuk badan. Untungnuya pertolongan dari petugas hotel yang membawakan obat alergi segera datang. Akhirnya, dengan bantuan obat alergi yang sekaligus juga obat tidur paling ampuh, saya bisa tidur nyenyak malam itu...

Anyway, dari kejadian alergi itu saya bisa menarik analogi atau perumpamaan atau pemikiran atau apalah itu namanya. Bahwa kadang kita mungkin menyukai sesuatu, sama halnya seperti saya menyukai seafood. Namun akan tiba saat dimana apa yang kita suka justru malah melukai atau membuat kita sakit (dalam kasus yang saya alami, bikin alergi), sehingga mau tidak mau kita harus berhenti memakannya, dekat dengannya atau berinteraksi dengannya. Saya atau kita hanya akan berhenti memakan (untuk kasus alergi seafood) atau dekat atau berinteraksi dengan sesuatu yang kita suka, bukan berarti kita berhenti suka. Kita tetap suka, hanya saja sedikit menghindar agar tidak terluka. Namun, jika telah terbiasa jauh, menghindar dan terlalu lama berhenti berinteraksi atau memakannya, bukan tidak mungkin kita akan lupa bahwa kita pernah suka dengannya dan akhirnya akan berhenti menyimpan perasaan itu. 

Maybe my thought sounds weird, especially for the last point. Agak nggak nyambung sama kisah alergi yang saya ceritakan panjang lebar di awal. Tapi saya hanya mencoba menggambarkan atau lebih tepatnya sok nyambung-nyambungin dan mengumpamakan, seperti itulah kita ketika kita mengalami perasaan suka yang justru malah membuat kita terluka dan membuat kita harus berhenti untuk dekat dengannya, meskipun sebenarnya kita ingin...

Rabu, 23 April 2014

Catatan Perantau Newbie

Halooo blogredeader! Lama banget saya nggak ngupdate blog lagi. Mumpung ada koneksi wifi dan ada waktu, kali ini saya kembali ngeblog lagi sambil membawa sapu dan kemoceng *bersihin laman blog dari debu dan laba-laba. Mwihihi...

Kali ini saya datang dengan postingan baru soal job baru saya. Metamorfosisnya gini, dari mahasiswa tingkat akhir galau skripsi --> jobseeker galau kurang kerjaan yang tiap kali curhat di blog --> pekerja baru sekaligus perantau newbie yang galau homesick. Kalo tahun lalu, di bulan yang sama, saya nggak bisa sering-sering nulis di blog karena sibuk nyekripsi, kali ini aktivitas saya udah 'naik level' dong *senyum senyum songong. Kalo kemarin sibuk jadii mahasiswa tingkat akhir yang galau skripsi, tahun ini sibuk jadi pekerja sekaligus perantau level newbie yang masih galau-galaunya dan hectic-hecticnya dengan aktivitas kerjaan, shock culture dan galau homesick.  Yes! This is my first time away from home. Dari waktu kuliah yang jarak 30km saya tempuh tiap hari demi bisa mencium aroma rumah, sekarang kerja ditempatkan di kota yang sunggu hectic, Jakarta! Dimana saya nggak bisa pulang tiap hari, tiap waktu dan setiap saat saya mau. Dan menurut saya, Jakarta is like a jail. Dimana kalo kalian udah datang, akan sangat sulit bagi kalian untuk keluar lagi. I mean, susah pulangnya gitu, apalagi kalo musim libur panjang, tiket kereta sampai pesawat abis semua. Kecuali kalo kamu betah 20 jam duduk di bus dari Jakarta sampai Solo atau sebaliknya. Anyway, saya nggak mau cerita soal 'living in a hectic city'. Cerita soal itu akan saya bahas di posting setelah ini , dengan catatan, kalo ada waktu luang.

Baiklah, back to the topic, kali ini saya mau cerita gimana rasanya jauh dari rumah, gimana rasanya jadi perantau dan itu di Jakarta pula, ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Ada banyak kisah perantauan, apalagi di Jakarta yang notabene banyak dipenuhi kaum perantau dan saya mau mewarnai salah satu kisahnya, sebagai perantau newbie nan manja yang sering kangen rumah. 

Kisah berawal dari ditempatkannya saya di kantor pusat tempat saya bekerja dan itu letaknya di Jakarta. Awalnya sih seneng, syukur, Puji Tuhan banget gitu pas denger kabar mendadak saya ditempatkan di ibukota. Karena sebelumnya saya emang pengen kerja di Jakarta. Taunya kesampaian juga. Tapi kesenangan saya hanya berlangsung sesaat. Esoknya saat packing, selama menikmati sisa waktu di rumah selama tiga hari, saya bener-bener merasa tidak siap meninggalkan rumah, apalagi meninggalkan mama-papa-adik yang hampir tiap hari, dari saya bayi sampe segede ini, bersama-sama terus. Bener-bener berat banget meninggalkan mereka. 

Minggu pertama di Jakarta, air mata saya serasa tumpah cuma-cuma dalam jumlah banyak. Saya basahi minggu pertama saya di Jakarta dengan air mata kekangenan pada mama, dimana tiap sore, kami selalu mengadakan 'private talkshow' di teras rumah atau bawah pohon kelengkeng nan rindang dan penuh kenangan, sekedar bercanda atau curhat dan belajar tentang arti hidup melalui wejangan beliau. Rindu akan saat dimana mama, papa, saya dan adik ngobrol, bercanda di ruang tengah, atau sekear saling menanggapi dan berkomentar meskipun kami sibuk dengan aktivitas masing-masing (mama baca, papa main game, saya sibuk dengan gadget dan adik mengerjakan tugas kuliah). Minggu pertama adalah minggu yang berat bagi saya. Tapi seterusnya, setelah saya mulai nyaman dengan teman-teman baru, sering ngobrol dengan teman kos yang sama-sama perantau dari regional yang sama, saya tidak merasa kesepian. Kadang saya habiskan weekend dengan jalan bareng mereka atau ke rumah tante. Itu cara saya mengatasi homesick meskipun tak sepenuhnya menghapus rasa rindu saya pada rumah.

Ada banyak pelajaran yang saya terima ketika saya jauh dari rumah, jauh dari mama yang selalu memperhatikan saya, dari makan sampai kebutuhan lainnya, jauh dari papa yang selalu siap siaga membantu saya, jauh dari adik dengan segala candaan ringannya. Jauh dari rumah mengajari kita untuk mandiri, saya jadi tahu gimana susahnya cari makan atau menentukan menu makanan, padahal hanya untuk saya. Kebayang mama yang tiap hari nyiapin makanan untuk papa, saya dan adik, tapi saya masih suka protes kalo menu nggak cocok. Sekarang saya tahu gimana susahnya cari makan sendiri. Kebetulan kos saya jauh dari tempat orang jual makanan, jadi kadang malas keluar cari makanan. Hasilnya saya delivery junkfood atau nasi goreng. Jarang makan sayur dan buah, padahal di rumah selalu ada tapi jarang saya sentuh. Jauh dari rumah membuat gaya hidup saya tidak sehat :(

Merantau membuat saya harus belajar mengatur segala sesuatunya sendiri. Kebersihan, kerapian, belanja bulanan, keuangan, dll. Di rumah, tugas saya hanya mencuci piring atau menyapu halaman. Ketika kos, saya harus mengerjakan semua, bahkan menyetrika yang menurut saya merupakan pekerjaan rumah yang paling melelahkan. Jadi keinget suka marah-marah sama mama karena kurang rapi dalam menyetrika, padahal baju yang harus disetrika banyak, sementara saya yang hanya menyetrika satu baju saja sudah lelah dan jengkel.

Merantau membuat saya tahu gimana rasanya jauh dari rumah ketika sakit tengah malam. Sendirian. Tidak ada obat dan hanya mengandalkan doa serta keajaiban. Sakit ketika jauh dari rumah membuat saya sadar bahwa tidak ada perhatian yang mengalahkan orangtua kita, terutama ibu yang langsung terbangun dan siap terjaga ketika kita sakit. Siap dengan obat yang meskipun kadang tinggal kita makan, tapi kita masih enggan menelannya. Ketika merantau dan tidak ada siapa-siapa, dengan posisi badan tidak sehat, hal itu membuat saya semakin merindukan rumah :(

Merantau membuat kita belajar menghargai saat-saat kebersamaan bersama keluarga. Saat yang dulu kita anggap biasa, namun kini terasa berharga. Merantau membuat kita sadar bahwa tidak ada tempat yang lebih nyaman dari rumah meski itu di hotel sekalipun. Saya merasakannya. Dulu saya begitu berniat untuk segera pergi dari rumah, karena kurang nyaman dengan kasurnya lah, lantainya lah, dll. Namun ketika saya di Jakarta, dengan fasilitas yang dua kali lipat lebih nyaman daripada kamar di rumah, saya merasa bahwa itu semua tidak ada artinya. Saya tetap merindukan rumah dengan segala isinya, tidak peduli rumah itu buruk, reot atau bau.

Merantau membuat kita tahu siapa yang benar-benar kita rindukan saat jauh. Dan itu adalah keluarga...


**Didedikasikan untuk perantau yang masih ingat rumah dan selalu merindukan rumah :')

Minggu, 23 Februari 2014

Job-Seeking Tips

Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dari moment mencari pekerjaan ini. Bahwa pintar dan IPK tinggi nggak bikin kamu otomatis langsung dapet kerja. Yang penting usaha dan aktif mencari informasi lowongan. Jangan lupa berdoa juga. Kadang seseorang yang dulu waktu kuliah IPKnya standar, bisa lebih dulu dapet kerja, sementara yang IPKnya lebih tinggi masih berjuang mencari kerja. Cari kerja itu bukan soal pinter atau bodoh. Bukan juga soal IPK tinggi atau rendah. Karena IPK tinggi atau pinter di bidang akademis juga belum tentu jago di dunia kerja. Tapi bukan berarti kalian jadi asal-asalan dan nggak berusaha dapet IPK bagus. IPK emang bukan penentu keberhasilan kita di dunia kerja, tapi jadi modal atau kunci pembuka buat nglamar kerja nantinya. Buat yang masih kuliah, terus berjuang buat dapet IPK minimal 3.00 lah. Soalnya sekarang banyak lowongan kerja yang mematok IPK min. 3.00.

Selain IPK, ada banyak faktor dan variabel penentu lainnya selain kepintaran dan IPK. Salah satunya adalah nasib. Karena nasib tiap orang itu beda-beda, nasib juga nggak semata-mata ditentukan dari hasil akademis saja. Cara ngerubah nasib ya dengan doa dan usaha. Gimana usahanya? Nih, saya share tips mencari kerja yang saya ambil dari pengalaman saya sendiri. I know how hard to be a jobseeker, tapi diam dan meratapi nasib nggak akan merubah status kamu.

Buat kalian yang masih cari kerja dan berjuang melawan jerat pengangguran, kalian harus banyak aktif cari informasi lowongan kerja. Sekarang jamannya udah serba online, jadi nggak ada alasan buat nggak update soal lowongan kerja terbaru. Status mantan di twitter aja ente pantengin terus, yakali buka situs lowongan kerja nggak sempat, hehe. Pokoknya buat kalian, aktif aja buka situs lowongan kerja yang tiap hari update, seperti :
1. Jobstreet (modelnya daftar gitu. Bikin akun pake email kalian, trus kalian upload foto dan cv, kalian juga bisa sort lowongan kerja berdasarkan bidang dan daerah lowongan, trus ada notifikasi via email juga, Jadi tiap ada kerjaan yang sesuai dengan yang kalian inginkan, ntar ada email dari mbak lina@jobstreet.co.id yang dikirim tiap hari)
2. Indojobhunter
Saya banyak dapet informasi dari website ini. Info lokernya update terus tiap hari. Bahkan kalian bisa juga follow twitternya karena mereka juga update di twitter.
3. Jobsdb, dll. Yang punya twitter, follow juga twitter dari website tersebut, biasanya mereka selalu update di twitter kalo ada lowongan baru. Saya dulunya tau BPJS-Kesehatan ada lowongan juga dari Indojobhunter. Kemudian dapet panggilan dari MNC TV dan Bank Mega juga dari Jobstreet. Saya dulu tiap hari apply lamaran, via email, pokoknya kalo kualifikasi saya masuk, langsung saya apply aja. Sekarang nglamar kerja nggak perlu repot. Cukup koneksi internet yang bisa buat buka situs loker dan kirim email lamaran. Beberapa universitas juga punya website khusus buat menyediakan informasi loker, yang recommended menurut saya adalah ECC UGM dan CDC Unpad, cukup dengan daftar jadi member. Selain itu, kunjungi juga website perusahaan, kadang mereka punya menu khusus untuk career/lowongan kerja/apply online via website mereka, seperti di bank-bank, beberapa perusahaan dan stasiun televisi, udah banyak menggunakan sistem apply online via website mereka.

Buat CV semenarik mungkin, karena CV adalah gerbang penentu serta gambaran keseluruhan kalian yang tertuang dalam satu halaman kertas, dan biasanya yang pertama dibuka HRD adalah CV. Mereka nggak akan membaca secara detail, maka dari itu buat CV yang menarik dan eye catchy tapi juga jangan terlalu banyak ornamen yang nggak penting. Cari aja format CV di internet, banyak banget kok. Tinggal pilih aja sesuai keinginan. Jangan langsung putus asa kalo belum ada panggilan. As you know aja sih, udah puluhan lamaran saya apply via online dan email dalam kurun waktu beberapa bulan menganggur ini. Sehari aja bisa apply 2-3 lamaran, tapi cuma beberapa lamaran saja yang mendapatkan panggilan. Intinya, apply aja semua lamaran yang sekiranya cocok dengan kualifikasi kalian. Perkara ntar dipanggil atau nggak, yang penting udah usaha. 

Dan pelajaran paling penting adalah jangan langsung patah semangat kalo kalian gagal. Karena ketika kalian tidak lolos di psikotest atau interview, itu bukan berarti kalian bodoh. Itu karena karakter kalian yang tergambar lewat psikotest atau interview, kurang cocok dengan karakter calon pegawai yang diinginkan oleh perusahaan. Setiap perusahaan dan formasi pekerjaan memiliki pont atau kriteria tertentu dari calon pegawainya, dengan melihat hasil psikotest atau interview. Misal, karakter sistematis cocok dengan pekerjaan yang teratur, baik dari segi waktu maupun kerjaan. Sementara karakter fleksibel cocok dengan pekerjaan yang dari segi waktu atau kerjaan selalu berubah-ubah. Intinya psikotest bukan untuk mengukur kepintaran kalian, tapi untuk mengetahui kecocokan karakter dengan kriteria perusahaan. Sementara interview adalah untuk melihat secara langsung karakter kalian dari cara interaksi dan penampilan kalian, serta jawaban kalian secara spontan ketika diwawancara. Itu sebabnya, saat interview, berpenampilan yang rapi itu penting.

Selain itu, saat mencari kerja, kalian juga mesti aktif dan fleksibel. Siap pergi kemana-mana, karena kadang lokasi test jauh dari rumah. Seperti saya yang selama Desember-Januari kemarin mesti bolak-balik Jakarta-Sragen-Semarang-Jogja. Minggu kemarin saya di Jakarta, besoknya udah di Semarang. Atau baru kemarin pulang rumah, beberapa hari kemudian udah ke Jakarta lagi. Kemarin tes di Semarang, lusa tes di Jakarta. Intinya siap-siap waktu, tenaga dan duit juga sih buat memenuhi panggilan test yang kadang mendadak dan jauh tempatnya. Positifnya sih bisa sekalian jalan-jalan daripada cuma bengong di rumah.

Selain apply online, kalian juga bisa mengikuti jobfair yang diadakan di kampus kalian atau kampus dan kota-kota di sekitar kalian (biasanya setelah wisuda, kampus akan mengadakan jobfair). Biasanya, apply via jobfair akan langsung diproses oleh perusahaan. Malah ada juga yang apply hari itu dan interview awal pada hari itu juga. Ada juga yang interview dan psikotest pada hari itu juga dan pengumumannya juga pada hari itu.

Itu sedikit tips dari saya buat kalian yang masih jobseeking. Kalo kalian gagal dalam suatu tes, jangan menganggap diri bodoh, jangan putus asa dan terus berusaha. Karena ketika kalian berhenti berusaha, kalian nggak akan sampai pada tujuan. Just do your best and let God take care the rest. Percaya juga bahwa Tuhan sudah menyiapkan ladang terbaik buat kalian. Sekarang emang belum ketahuan dimana ladangnya (karena kalo ketahuan sekarang, jadi nggak surprise lagi dong dan kalian nggak ada usaha). Tapi nanti kalo kalian udah ketemu dengan ladang yang disediakan Tuhan, kalian akan setuju dengan kalimat 'semua indah pada waktunya' dan emang rencana Tuhan itu indah adanya...

Selasa, 11 Februari 2014

Jobseeker's Journey (5)

The Result...

Setelah tes di MNC TV, saya masih menikmati hari-hari saya di Jakarta. Sampai akhirnya, keluarlah pengumuman hasil kelulusan wawancara dari BPJS-Kesehatan pada hari Senin dan saya dinyatakan lolos! Bener-bener bersyukur dan nggak nyangka, karena di tahap wawancara ini masih ada eliminasi, jadi dari sekitar 150an orang di Divre Jateng yang lolos ke tahap wawancara, yang lolos ke tahap selanjutnya hanya sekitar 100an orang. 

Setelah wawancara, peserta dijadwalkan mengikuti tes kesehatan atau medical check up pada hari Rabu-Kamis, dibagi menjadi dua kloter. Orangtua di rumah sempat panik juga, takut saya dapet kloter hari Rabu, soalnya saya masih di Jakarta dan terlanjur beli tiket kereta dengan keberangkatan Rabu pagi. Akhirnya, sms dari pihak BPJS-Kesehatan membuat saya dan orangtua yang harap-harap cemas jadi lega kembali. Saya dijadwalkan tes kesehatan pada hari Kamis, sehingga masih bisa kalo naik kereta Rabu pagi dan dijadwalkan sampai Solo pada sore hari. 

And finally, really say goodbye to Jakarta and don't know when i'll be back again. Soalnya tes kesehatan di BPJS adalah tahap akhir, kalo dari hasil tes tidak ditemukan masalah kesehatan yang fatal atau tidak sesuai kriteria BPJS, tentunya ada kemungkinan besar untuk lolos. Diiringi dengan ke-hectic-an karena harus berjuang melawan kemacetan akibat banjir, akhirnya saya tiba di Stasiun Gambir, menanti kedatangan kereta Argo Dwipangga yang akan membawa saya pulang. Cuaca sepanjang perjalanan yang cloudy seolah mengikuti suasana hati saya yang juga cloudy dan gloomy. Entah kenapa hati saya serasa masih tertinggal di Jakarta (halaaaahh! hahaha)

Dan tanpa disangka, di tengah perjalanan, saya mendapatkan panggilan tak terjawab dari MNC TV. Beberapa menit kemudian, mereka menelpon lagi dan masih belum saya jawab. Saya bingung karena saat itu saya dalam perjalanan pulang untuk mengikuti tes akhir di tempat lain, tapi bingung bagaimana harus menjawab dan menjelaskannya. Akhirnya saya biarkan saja. Padahal dalam hati sebenernya sayang banget kalo kesempatan ini mesti saya buang dan saya lewatkan begitu saja. Bukannya saya emang pengen kerja di media? :(

Beberapa saat, peserta yang juga ikut tes di MNC TV dan sempat bertukar kontak menghubungi saya, apakah saya mendapat telepon. Saya bilang iya, tapi ternyata dia malah nggak dapet. Tapi satu teman lain yang saya  hubungi via twitter ternyata lolos juga. Dia cerita kalo sebenernya besok (hari Kamis) ada interview HRD, yang akhirnya saya ketahui beberapa hari kemudian, kalo interview tersebut untuk menanyakan mau ditempatkan di bagian apa. Yaaaah, nyesel juga sih ketika harus melewatkan kesempatan ini. Tapi saya yakin rencana Tuhan lebih baik daripada rencana dan keinginan saya.

Esoknya saya mengikuti tes kesehatan yang diadakan di RSUD Kota Semarang. Tes berupa cek fisik (tinggi dan berat badan), tensi/tekanan darah, EKG, cek darah, cek urin dan rontgen. Sudah seminggu lebih sejak tes diadakan dan belum ada pengumuman hasil tes kesehatan. Malahan ada beberapa peserta yang dipanggil untuk mengikuti tes kesehatan lanjutan, untuk cek ulang dan memastikan hasil tes kesehatan sebelumnya. Aaaaaaaa, rasanya udah nggak betah banget nganggur kelamaan di rumah, ditambah lagi perasaan harap-harap cemas menantikan pengumuman. Sehari-hari jadi meracau dan menggalau gara-gara bosen nganggur. Sampe-sampe tiap ada kesempatan, saya cek mulu website BPJS dan nggak capek-capek mantengin forum di Kaskus.

Akhirnya, semalem (Senin, 10 Februari 2014) setelah dapet kabar dari salah seorang teman dan saya pantengin forum di Kaskus, pengumuman keluar juga. Waaaaa, sambil harap-harap cemas, saya download pdf pengumuman hasil tes kesehatan. Agak khawatir juga, soalnya ada 77 peserta dari seluruh Indonesia yang harus ikut tes kesehatan ulang. Takutnya saya masuk di daftar nama tersebut. Bahkan saya pantau di forum Kaskus juga, ada peserta yang nggak lolos karena tinggi badan kurang, buta warna, dll. Ini membuktikan bahwa tes kesehatan bukan formalitas! Di tahap akhir aja masih ada yang nggak lolos juga karena tidak memenuhi standar kesehatan dan kriteria fisik yang ditentukan. Merinding waktu baca komen mereka. Saya jadi ikutan sedih dan prihatin. Gimana rasanya nggak lolos, padahal udah berjuang jauh banget sampe tahap akhir :"

Satu persatu saya cek nama saya di daftar nama peserta yang dinyatakan lolos daaaannn nama saya ada! Saya dinyatakan lolos tes kesehatan. Puji Tuhan! Seneng sih iya, tapi jujur, saya nggak surprise banget karena emang dari awal, saya nggak berekspektasi bisa keterima di BPJS, melihat banyaknya jumlah peserta yang mengikuti tes ini dari awal sampai akhir. Selain itu, hati saya masih ingin kerja di media. Tapi saya harus bersyukur dan tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, karena di sisi lain banyak yang ingin berada di posisi saya. Yakali saya malah mau buang gitu aja. Saya juga percaya bahwa ini adalah jalan dan rencana Tuhan. Bahwa kadang ada kejutan di balik rencana Tuhan. Kadang Ia memberikan sesuatu yang tidak kita duga, sesuatu  yang nggak pernah kita lihat, yang nggak pernah kita dengar dan nggak pernah kita pikirkan, tapi Tuhan sediakan. Dan saya percaya bahwa semua pasti akan indah pada akhirnya, Ia tahu mana yang terbaik untuk saya.

Setelah ini, denger-denger sih minggu depan akan ada pelatihan gitu. Ya pokoknya minggu2 ini saya mesti siap mental untuk menghadapi dunia kerja yang sebenarnya, meskipun belum resmi melepas gelar 'Jobseeker' sih, soalnya belum bener-bener kerja, masih pelatihan juga. This is only the end of my journey as a jobseeker, hanya akhir dari perjuangan saya untuk lepas dari jerat jobless, justru ini adalah awal perjuangan dan perjalanan saya sebagai pekerja dalam mengarungi dunia kerja yang nyata. Welcome to the jungle! Welcome to the real life!


***

Selasa, 04 Februari 2014

Jobseeker's Journey (4)

Jakarta (Again and Again)...

Akhirnya sampailah lagi saya di Jakarta dengan menumpang kereta Senja Utama pada hari Rabu. Senang sekali rasanya bisa kembali menginjakkan kaki di kota ini. Esoknya, saya siap untuk mengikuti interview user untuk program BDP MNC TV. 

Ada sekitar 50an orang yang hari itu mengikuti interview dan dibagi menjadi dua kloter, pagi dan siang. Saya kebagian kloter pagi. Saat interview, saya baru tahu kalo ternyata psikotest dilaksanakan dalam beberapa kloter. Kirain cuma pas saya aja, tapi ternyata juga ada hari lain. Saat interview, saya kebagian paling akhir. Udah siang banget dan sempat kepotong jam makan siang. 

Ada empat orang yang meng-interview saya hari itu. Semacam interview panel gitu lah. Saya ditanyain apa posisi yang saya mau, pengalaman kerja di radio, kegiatan waktu kuliah, siap nggak kerja dalam tekanan dan sistem shifting, kalo misalnya jadi tim kreatif mau bikin acara apa, dll. Interview sih berjalan lancar dan saya sendiri juga berharap bisa lolos. Tapi yang sedikit menjadi catatan adalah ketika salah satu interviewer bilang suara saya terlalu lembut buat jadi reporter, nanti kalo lagi liputan di tempat yang crowded gimana dong. Dan saya pun langsung hopeless...

Sehari setelah interview, saya kembali mendapat telepon dari MNC TV. Duuh, jangan-jangan saya lolos program BDP nih. Dan ternyata, bukan itu sodara-sodara! Saya dialihkan untuk mengikuti program reguler untuk posisi Corporate Secretary, semacam humas gitu. Saya dijadwalkan untuk interview hari Senin. Yaudah, saya ambil aja kesempatan itu dengan harapan tes ini bersifat paralel, artinya tes BDP saya tetap jalan sementara saya mengikuti tes di program reguler.

Hari Senin saya kembali lagi untuk interview dengan Bapak Hafiz. Ada sekitar 7 orang yang dipanggil dan itu cewek semua. Kemudian saya bertanya sama salah satu HRDnya, apakah saya masih ada harapan di program BDP. Jawaban si mbak ini membuat saya kaget dan langsung nggak semangat buat nglanjutin interview. Ternyata saya nggak lolos program BDP, makanya dialihkan ke program reguler. Dari sini saya mendapatkan pelajaran bahwa interview berjalan dengan lancar juga belum menentukan bahwa kita akan diterima. Karena yang dilihat bukan dari lancarnya tapi dari kecocokan antara kepribadian kita yang tampak saat interview dengan pekerjaan yang kita lamar. Sedih banget rasanya. Saya kan maunya di BDP, itu juga yang dirasakan oleh dua peserta tes lain yang akhirnya memilih untuk mundur daripada melanjutkan interview. Saya sih memilih untuk tetap menjalani tes, dicoba dulu aja deh. Siapa tau rejeki...

Saat interview, saya dikasih tau kalo ada dua posisi yang dibutuhkan yaitu untuk Social Media dan Call Center. Kirain call center kayak di provider gitu, yang tugasnya nerima telepon, ternyata bukan. Yang dimaksud Call Center itu kayak koordinator, jadi menghubungkan pihak luar dengan panitia di dalam kalo lagi ada event. Saya sendiri lebih tertarik ke Social Media.

Beberapa hari setelah interview, saya mendapatkan telepon dari rumah, katanya saya lolos psikotest di BPJS-Kesehatan! Kaget juga sih, soalnya belakangan udah jarang ngecek pengumuman di website karena udah kelamaan nunggu sekitar 3 minggu dan belum ada pengumuman. Akhirnya saya pulang lagi untuk mengikuti tes tahap selanjutnya, yaitu interview user di Semarang pada hari Minggu.

Hari Jumat saya udah sampai di rumah dan siangnya langsung dapat telepon dari MNC TV (lagi)! Setelah saya terima, ternyata saya lolos interview kemarin dan hari Rabu diminta untuk datang kembali mengikuti tes FGD (Focus Group Discussion) dan interview dengan Bapak Ray Wijaya, beliau adalah Pemimpin Redaksi, Vice President News dan Corporate Secretary di MNC TV. Sempat bingung juga, saya ambil atau nggak. Setelah konsultasi sama mama, akhirnya saya boleh kembali lagi ke Jakarta setelah mengikuti interview user di BPJS-Kesehatan. Kata mama, yang penting fokus interview di Semarang dulu. Habis itu, baru mikir buat yang di Jakarta. Baiklah...

Akhirnya tibalah juga saya pada hari yang mendebarkan, yaitu interview user BPJS-Kesehatan. Saya datang kepagian dan disambut hujan deras. Pokoknya bener-bener enak banget buat tidur. Yang lain masih pada semangat belajar materi tentang BPJS-Kesehatan, sementara saya sibuk main Pokopang, daripada belajar malah bikin tambah ngantuk -,-

Saya kebagian diinterview oleh 3 orang bapak-bapak. Beliau adalah kepala bagian/bidang di Divisi Regional Jawa Tengah. Saat interview, saya diminta kasih skor untuk diri saya antara 10-100, menceritakan diri sendiri, menceritakan kekurangan dan kelebihan, pengalaman kerja di radio, tentang keluarga, siap nggak ditempatkan di luar Jawa, saya juga diminta ngomong pakai bahasa Inggris. Sempat dikira joki juga, soalnya foto dan wajah saya beda banget (yaiyalah, yang di foto itu didandanin menor banget. Udah kayak ondel2 aja, haha). Trus juga bapaknya menyayangkan, kenapa saya nggak berpakaian rapi dengan blazer kayak di foto (karena waktu itu saya cuma pakai kemeja kerja lengan pendek dan rok), padahal kata bapaknya, penampilan juga penting (duuhh, langsung tepok jidat dalam hati).

Hari Selasa saya berangkat pagi dari Solo dengan naik kereta Argo Lawu yang dijadwalkan tiba sore harinya di Jakarta. Pas di kereta, saya dapet telepon lagi dari MNC TV, kirain dibatalin interview dan FGDnya, ternyata ngasih tau kalo jadwal di reschedule jadi hari Kamis. Syukurlah, hari Rabunya saya bisa istirahat...

Hari Kamis, saya kembali mengikuti tes di MNC TV. Ada enam orang yang mengikuti tes tersebut, yang satu saya kenal karena satu kloter waktu interview dengan Pak Hafiz tempo hari. Yang lain saya nggak kenal, ternyata baru saya tau kalo interview sebelumnya juga dibagi menjadi dua kloter. Sebenernya sih ada 7 orang yang lolos, tapi yang satu nggak dateng. 

Tes pagi itu diawali dengan FGD bersama bapak Hafiz dan dua orang dari Corporate Secretary. Materi soal social media. Kami diminta untuk membuka gadget masing-masing dan diminta untuk menganalisa Twitter serta Fanpage MNC TV. Sialnya, gadget saya pagi itu bener-bener lemot karena sinyal provider yang lemah di tempat itu. Bener-bener hopeles banget, rasanya pengen sembunyi di pojokan ruangan. Tapi bukan saya sendiri yang mengalami susah sinyal, ada satu peserta lain yang mengalami nasib sama. Yaudah, akhirnya saat diskusi, saya lebih banyak abstain, nggak banyak bicara atau memberikan saran, apalagi kasih kesimpulan. Saya hanya bicara kalo saya ngerti sama materi, bukan sekedar ngomong buat menyatakan eksistensi. 

Setelah FGD, kami diminta untuk nge-tweet sesuatu yang berhubungan dengan MNC TV, kemudian juga laporan ada berapa banyak yang me-retweet atau me-reply tweet tersebut. Maaakkk! Tambah pusing aja saya. Mana followers saya lebih dikit dari peserta lain. Siapa juga yang mau me-retweet tweet saya. Mana saya juga jarang update di Twitter. Duuh, pokoknya bener-bener hopeless banget deh -,-

Setelah istirahat siang, tes berlanjut ke interview dengan Pak Ray Wijaya. Saya kebagian urutan pertama. Ada banyak hal yang ditanyakan, seputar social media, apa yang kamu ketahui tentang MNC TV, menilai diri sendiri, pengalaman kerja di radio, siapa teman terdekatmu, dll. Seperti biasa, interview berjalan dengan lancar. Intinya, katakan apa yang ingin kamu katakan, jadi diri sendiri dan nggak perlu nervous...

To Be Continued...

Senin, 03 Februari 2014

Jobseeker's Journey (3)

Home Again...

Akhirnya saya pulang ke rumah dengan sedikit berat hati. Tapi saya percaya bahwa ada rencana Tuhan di balik semuanya ini. Hari Sabtu, saya mengikuti tes tahap selanjutnya di BPJS-Kesehatan yaitu tes komputer di Unisbank Semarang. Ada sekitar 500an lebih peserta yang lolos ke tahap ini dan dibagi menjadi beberapa kloter. Saya kebagian kloter akhir yaitu jam 12.00 dan seperti biasa, tes hari itu saya awali dengan ke-hectic-an karena saya berangkat mepet dari rumah dan kejebak macet di jalan. Udah panik banget. Awalnya mau nyoba naik BRT Trans Semarang, tapi karena ngejar waktu, akhirnya saya naik taksi. Agak takut dan trauma juga sih, takutnya diputer-puterin atau taksinya jalan lambat sementara argo larinya kenceng, karena saya juga kurang paham jalanan di Semarang. Tapi syukurlah, taksi yang saya tumpangi tersebut dikendarai oleh sopir yang jujur dan baik.

Sesampainya di gedung kampus, teman saya dari awal kuliah (sampai lulusnya aja juga barengan, haha) sudah menanti. Dia lolos juga di tes awal dan berhasil masuk tahap selanjutnya bersama saya. Perjuangannya luar biasa loh. Dia berangkat langsung dari Jakarta malam sebelumnya setelah mengikuti interview dan tes kesehatan untuk rekrutmen CPNS di BNN. Dia belum sempat pulang ke rumah dan langsung menuju ke lokasi tes.

Materi tes hari itu berupa Microsoft Word (membuat surat), Excel (tabel dan rumus hitung) dan Power Point (presentasi). Masing-masing peserta diberi waktu kurang lebih 90 menit untuk menyelesaikan seluruh soal tersebut. Untuk soal Word, saya kerjakan dengan cepat karena sisa waktu lebih akan saya gunakan untuk mengerjakan soal Excel yang lebih sulit dan rumit. Setelah itu saya kerjakan soal Excel dengan memakan waktu lebih lama. Yang terakhir baru mengolah presentasi dan Power Point. Akhirnya saya selesai mengerjakan soal tersebut dengan menyisakan waktu 15 menit. Sepanjang sisa waktu tersebut saya gunakan untuk mengoreksi kembali, siapa tau ada salah penulisan atau kesalahan lain yang terlewat. Tes tersebut saya lalui dengan perasaan lebih lega daripada tes sebelumnya yang pernah saya jalani.

Dan sepertinya Tuhan begitu baik dengan tidak membiarkan saya menganggur, bengong dan resah gelisah karena harus menanti pengumuman tanpa melakukan apa-apa. Hari Senin, saya jalan-jalan lagi (hehe) ke Jogja buat mengikuti tes awal Wardah Cosmetics (Paragon Technology and Innovation - PTI). Jadi ceritanya, mereka mengadakan reschedule untuk yang minggu lalu tidak bisa menghadiri tes. Saya dapat jadwal kloter akhir jam 14.00 tapi udah berangkat dengan menumpang kereta Madiun Jaya yang dijadwalkan tiba di Jogja sekitar pukul 10.00. Sisa waktu 4 jam saya habiskan untuk menunggu bersama teman saya yang kuliah di Jogja.  Tes awal itu berupa tes logika dan tes Paulin (lagi!). Tapi syukurlah, ada kemajuan ketika saya mengerjakan soal tes Paulin untuk kedua kalinya ini. Speed saya jauh bertambah, bahkan saya minta nambah lembar.


Kemudian, kurang dari seminggu setelah tes komputer, saya mendapatkan SMS dari BPJS-Kesehatan yang menyatakan bahwa saya lolos ke tes tahap selanjutnya yaitu psikotest. Perasaan kaget, senang, cemas dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Kaget karena tidak menyangka saya bisa lolos ke tahap selanjutnya, senang karena saya bisa lolos, cemas karena bagi saya, psikotest adalah tahapan yang paling 'mematikan'. Saya trauma karena gagal di aptitude test Bank Mandiri dan saya juga berpikir bahwa psikotest saya di MNC TV juga gagal, karena sudah hampir 3 minggu tidak kunjung mendapatkan kabar/panggilan (soalnya HRDnya bilang, pengumuman paling lambat 3 minggu). Ada perasaan takut jika kegagalan itu terulang lagi di psikotest BPJS-Kesehatan tersebut. Saya juga sedih, karena satu-satunya teman seperjuangan saya harus gagal di tes ini. Tapi syukurlah, ternyata dia lolos dalam seleksi CPNS BNN. Mungkin benar bahwa rejeki seseorang tidak mungkin tertukar dengan yang lainnya. Setiap orang sudah memiliki rejeki masing-masing.

Akhirnya, tibalah saya pada hari yang membuat saya takut, psikotest! Tapi dengan dukungan dan doa dari orang-orang di sekitar, saya berusaha melalui tes tersebut dengan tenang. Saya kerjakan semampu saya dan sebisa saya. Materi tes berupa soal-soal psikotest umum yang rata-rata juga digunakan di perusahaan atau BUMN. Saya juga sempat menjumpai tes serupa waktu psikotest di MNC TV, jadi sudah tidak begitu asing lagi. Tes dilanjutkan dengan wawancara psikolog. Tim psikolog tersebut didatangkan dari UII Yogyakarta. Pertanyaan yang diajukan seputar diri sendiri, motivasi kenapa saya melamar kerja di tempat tersebut, kegiatan yang saya lakukan selama kuliah. Psikolog juga sempat menanyakan, kenapa saya melamar pekerjaan di tempat yang tidak ada sangkut pautnya dengan jurusan saya yang idealnya kerja di media. Intinya sih, nggak perlu nervous, santai, berbicara dengan jelas dan tenang, bersikap jujur, gesture juga diperlukan biar nggak keliatan kaku, tapi jangan gunakan gesture yang berlebihan, sewajarnya aja.

Dan satu beban terangkat setelah saya mengikuti psikotest. Yang penting saya sudah berusaha, hasilnya saya serahkan pada Tuhan. Tapi rupanya, masih ada kegalauan lain yang menyerang saya dan belum saya tuntaskan. Beberapa hari sebelum psikotest, saya mendapatkan SMS undangan psikotest di Trans Tv pada 31 Desember 2013. Aaaaaaa! Kesempatan kerja di media! Ini passion saya! Ini keinginan saya! Kemudian saya utarakan keinginan saya pada mama saya, kali aja dikasih ijin buat balik Jakarta lagi. Tapi ternyata, saya tidak mendapatkan ijin untuk menghadiri tes tersebut. Dengan perasaan sedih dan sangat berat sekali, akhirnya saya lepaskan  kesempatan tersebut :'(

Tapi, ketika satu kesempatan tertutup, kesempatan lain pasti terbuka. Setelah tahun baru, ada pengumuman bahwa saya lolos tes tahap awal Wardah Cosmetics. Akhir minggu itu, ada undangan untuk mengikuti psikotest lengkap di Graha Karir ECC UGM. Baiklah, saya pun  mengikuti tes tersebut. Lagi-lagi saya kebagian kloter paling akhir. Materi psikotest berupa gabungan soal-soal yang pernah saya jumpai sebelumnya ketika psikotest di MNC TV dan BPJS-Kesehatan seperti tes CFIT, IST, Draw A Man, Baum Tree, tes kepribadian yang berjumlah 250 butir, dll. Mungkin karena saya sudah pernah menemui tes serupa, saya mengerjakan tes tersebut tanpa kesulitan, kecuali pada tahap imajinasi bangun ruang. Itu loh, yang kubus dengan titik dan garis di sisi-sisinya, kemudian mencari bentuk yang sama jika dibolak-balik. Di sini saya bener-bener blank -,-

Setelah psikotest Wardah, saya nganggur lumayan lama. Kegalauan dan perasaan hopeless juga kembali melanda. Perasaan H2C alias harap-harap-cemas mulai melanda karena belum ada pengumuman hasil dari psikotest BPJS-Kesehatan. Dan saya anggap psikotest di MNC TV sudah gagal karena sudah hampir sebulan, artinya sudah lewat 3 minggu dan saya belum juga dihubungi. Tapi benar kata mama saya, ketika kamu sudah mencapai titik puncak keputus-asaanmu, jangan langsung berhenti dan menyerah, karena itu artinya kamu sudah dekat dengan keberhasilan. Hari Senin, saya mendapat telepon dari MNC TV dan diundang mengikuti interview user untuk program BDP pada hari Kamis. Perasaan senang dan semangat kembali menjalar di tubuh saya. Jakarta lagi! Selangkah lebih dekat untuk kerja di industri media! Dengan semangat, saya beli tiket kereta untuk keberangkatan hari Selasa. Jakarta, I'm coming!!

To Be Continued...