Kamis, 06 November 2014

Rimba di Kota

Suatu senja temaram di antara riuh rendah suara kendaraan dan lalu lalang manusia yang berjalan, dalam gemerlap lampu yang mulai menyala, menggantikan sinar surya, sepasang sahabat duduk di sudut taman kota, menikmati hembusan udara yang tak sebersih kemeja putih mereka. Mereka berdua adalah sahabat lama yang terpisah oleh laut selama beberapa waktu dan berjumpa secara tak terduga. Percakapan pun dimulai.

+ : ooooo, gini to ibukota? Beruntung kamu, bisa tinggal di sini...
- : beruntung gimana?
+ : apa2 ada, cari duit gampang. Buktinya, banyak yang pulang2 dari sini, bawa duit banyak. Dan yang pasti, di sini memang dirancang khusus buat tinggal manusia. Gedung2 perkantoran, pusat perbelanjaan, apartemen. Tengok kanan kiri, semua manusia. Ada saja yang bisa kau ajak bertegur sapa. Bandingkan dengan saya di kota kecil seberang pulau sana. Di antara hutan belantara. Kalau di sini kalian yang mengitari hutan kota, kalau di sana, hutanlah yang mengitari kota kami. Berjumpa manusia saja rasanya sudah luar biasa. Sementara kami hidup bersama hewan yang bebas liar di tengah hutan, bahkan suatu ketika jika kami lengah, mereka bisa memangsa kami.
- : Kau pikir aku tidak hidup bersama hewan? Hewan dari segala hewan. Biarpun di sini tak ada hutan, tapi hewan2 pemangsa masih berkeliaran. Hewan di sini lebih buas dari hewan di hutanmu, kawan. Kalau harimau di hutanmu, memangsa manusia itu hal biasa. Mereka adalah hewan pemangsa dan tak memiliki karsa. Sementara di sini, di kota ini, makhluk yang memiliki karsa pun bisa memangsa sesamanya. Polah mereka tak ubahnya harimau yang menerkam siapa saja ketika kelaparan dan dengan karsanya, mereka melakukan intrik untuk memangsa dengan segala cara. Makhluk di sini jauh lebih buas dari harimau di hutanmu, kawan...

Mereka termenung. Sesaat kemudian, seorang pria terkapar sejauh seratus meter di hadapan dengan luka sayatan dan satu orang pria bertopeng hitam dengan tas hasil rampasan melajukan motornya tanpa menoleh sedikitpun. Sementara di pos keamanan, seorang satpam menatap layar teve yang menayangkan warta mengenai pejabat korup dan seorang gadis peminta-minta yang curi-curi nonton televisi dari balik tembok setengah tinggi sembari memunguti sampah kotak nasi. Inilah rimba di tengah kota...

1 komentar: