Senin, 12 Desember 2016

Mind Your Choice

Suatu hari saya pergi mengantri tiket bioskop di sebuah pusat perbelanjaan. Saya ingat betul, hari itu adalah akhir pekan dengan tambahan libur pada hari Senin atau yang orang-orang kerap juluki longweekend. Dan seolah enggan berdiam selama tiga hari di rumah, kaum metropolitan itu mengisi waktu libur yang lumayan panjang itu dengan menonton film di bioskop, sama seperti saya. Kebetulan saat itu sedang ramai diputar judul-judul film yang cukup hits. Suasana bioskop saat itu sudah seperti pasar, sehngga tiap berjalan selalu berpapasan bahkan kadang bersenggolan dengan orang. Beberapa bahkan nikmat duduk melantai di atas karpet di selasar bioskop.

Ada dua lokasi loket di bioskop itu. Dari eskalator potong kompas tempat saya berdiri, satu loket berada di arah kanan dan satu loket lagi berada di arah kiri. Jarak loket yang satu dengan yang lain, dari tempat saya berdiri, kurang lebih sama. Umumnya orang memilih loket sebelah kiri karena berdekatan dengan pintu utama, selain itu ada 4 petugas tiket yang standby untuk melayani pembeli tiket. Sementara loket sebelah kanan ada kemungkinan tak banyak yang tahu, karena biasanya loket itu untuk studio film VIP (non reguler) tapi ada kemungkinan security mengarahkan pengunjung untuk mengantri di loket tersebut apabila loket umum sudah panjang antriannya. Dan tiba saatnya saya harus memilih, loket kiri atau loket kanan. Hal yang menyebalkan memang, membandingkan hal yang kurang lebih sebenarnya sama, tapi kita mengharapkan ada satu pilihan yang sedikit lebih unggul dari pilihan lainnya. 

Akhirnya saya putuskan untuk mengantri di loket sebelah kanan. Seperti yang saya gambarkan sebelumnya, suasana bioskop sangat padat, jalan ke kanan papasan dengan orang, jalan ke kiri papasan juga, bahkan terkadang harus bersenggolan. Sungguh beginikah euforia akhir pekan di ibu kota? -____-"

Setibanya di loket tersebut, ada empat layer barisan dimana setiap layernya terdiri dari kurang lebih 5 orang yang mengantri. Hmm cukup panjang memang. Saat itu saya berencana menonton film pukul 14.35 dan waktu sudah menunjukkan pukul 14.15. Saya pun sudah hopeless bisa mengejar jadwal 14.35, akhirnya saya putuskan untuk menjalankan plan B yaitu memilih jadwal pukul 16.55. Selang 5 menit kemudian seorang ibu tergopoh menghampiri pria yang mengantri di belakang saya, mungkin istrinya. Ia berkata bahwa antrian di loket umum lebih cepat dan hanya ada 3 layer barisan, kemudian dengan tergesa mengajak pria itu untuk mengantri di sana.

Keteguhan saya pun mulai goyah (bahkan untuk hal kecil seperti mengantri tiket nonton film pun diperlukan keteguhan hati, hahaha). Benarkah di loket satunya antrian cepat terurai, karena kebetulan di loket tersebut memang ada 4 petugas. Saya pun menengok ke belakang, ada 4 orang di belakang saya yang ikut mengantri dan sedari tadi saya hanya beranjak maju beberapa langkah saja. Ditambah lagi hanya ada 2 petugas di loket itu dan beberapa rombongan pembeli tiket yang sebenarnya menambah lama antrian yaitu suka 'rapat' dan ngobrol menentukan jam, film, dan lokasi seat (Ini yang paling menyebalkan, kenapa nggak sedari tadi waktu mengantri mereka bicarakan dan susun plan B bahkan sampai Z apabila plan A mereka tidak berhasil -_____-")

Setelah mendengar perkataan ibu tadi, mundurnya si bapak yang saya duga adalah suaminya dari antrian dan melihat keadaan sekitar serta jam nonton yang saya rencanakan, saya pun mulai bimbang antara dua pilihan, mau mundur dan memulai antri lebih awal di loket yang satunya atau stay on the line dan tetap mengantri di jalur yang awalnya sudah saya yakini. Di tengah kebimbangan saya, 'partenr' nonton saya memberikan pencerahan, bahwa memulai mengantri di loket baru sebenarnya sama saja dengan tetap mengantri di loket yang sudah kita pilih. Meskipun di sana lebih cepat antriannya, tapi layer antriannya cukup panjang dan perjuangan berjalan dari loket awal ke loket tujuan akan makan waktu, cukup untuk menuntaskan pelayanan satu orang pembeli tiket di loket yang sebelumnya saya, sementara di sana kita harus mulai lebih awal lagi. Kecuali kalau dari awal kita memang memutuskan antri di sana. Akhirnya dengan pencerahan tersebut, saya memilih untuk stay on the line, tetap berada dalam barisan antrian dan melanjutkan perjuangan.

Akhirnya setelah cukup lama menunggu dan waktu sudah menunjukkan pukul 14.33, saya berhasil mencapai meja petugas. Saya sebutkan judul film dan petugas menawarkan jadwal pukul 14.35. Saya melirik jam tangan saya sekali lagi dimana jam sudah menunjukkan pukul 14.33. "Lho, emang masih buka, mba?" Mba petugas pun menjawab bahwa masih dibuka dan bahkan film belum mulai diputar, paling baru iklan. Ia kemudian menunjukkan seat map dan masih ada seat yang ijo-ijo di lokasi yang tepat, pas dan selalu kita incar apabila nonton film. Wah pas banget, ada dua seat di tengah-tengah dan tidak terlalu di bawah maupun di atas. Akhirnya tanpa ba-bi-bu lagi, kita pilh seat itu. Sungguh beruntung memang, di jam yang sudah mepet, saya masih mendapatkan seat di tengah, karena saya sudah membayangkan bakal dapet di seat paling depan yang bikin leher pegel-pegel. Kami pun berjalan menuju studio dan setibanya di sana, film belum mulai, bahkan lampu masih menyala, tidak seperti yang dibayangkan bahwa lampu sudah mati dan film sudah mulai. Karena sejujurnya saya kurang suka masuk ke studio pas film sudah mulai, selain sudah gelap, kita sedikit kehilangan beberapa menit alur cerita di awal. Dan akhirnya dengan keteguhan dan keyakinan untuk tetap mengantri di loket awal, kita mendapatkan hal yang sungguh-sungguh beyond expectation. Jadwal nonton 14.35, seat di tengah yang nyaman dan tidak ketinggalan satu menit pun awalan film.

Dari hal kecil seperti mengantri tiket nonton ini, saya mendapatkan secuil pelajaran. Kadang dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada dua pilihan yang sebenarnya serupa tapi tak sama namun kita mengharapkan ada satu pilihan yang berbeda dan unggul dari pilihan yang satunya. Tapi pada akhirnya kita harus memilih bukan? Tak bisa kita meraih dua-duanya. Dalam hal ini, tak bisa saya membagi diri saya seperti amoeba untuk mengantri di loket satu dan loket satunya lagi. Namun tak jarang, ketika kita sudah memilih satu pilihan, karena satu atau lain hal, entah karena keadaan atau omongan orang atau ketidakmantapan hati kita sendiri, kita berbalik arah, berputar dan memilih untuk memulai hal baru bersama pilihan yang kedua, meninggalkan sepertiga-seperempat-atau setengah jalan yang sudah kita lalui dengan pilihan awal. Ya, bertahan dan meninggalkan juga merupakan pilihan bukan? Bahwa pilihan tidak hanya di awal ketika kita memilih A atau B, tapi juga ketika kita sudah berjalan dengan pilihan kita, akan ada pilihan yang ditawarkan lagi yaitu bertahan atau meninggalkan.

Dalam hal menonton film kali ini, saya memilih untuk bertahan dan mendapatkan bonus tak terduga atas keteguhan dan keyakinan saya untuk bertahan. Tapi dalam hidup, kadang pilihan yang kita ambil justru menimbulkan kekecewaan, keunggulan yang tadinya kita lihat lebih terasa daripada pilihan satunya tiba-tiba menghilang dan tak kita temui lagi. Dan kadang dalam hidup, kita tidak diberikan pilihan untuk kembali pada piluhan yang satunya lagi. Akhirnya kecewa dan penyesalan yang kita rasakan. Namun apapun yang kita dapatkan, entah sebuah hal baik yang tak terduga dan melebihi ekspektasi atau suatu hal yang menyakitkan dan buat kecewa, pilihan membantu kita untuk belajar berkomitmen dan menjalani apapun konsekuensi dari pilihan yang kita ambil tersebut. Entah baik atau buruk yang tersimpan di baliknya, kita tetap menjalani dengan segala konsekuensinya. Pilihan membantu kita untuk meyakini apa yang sudah kita jalani sebelumnya, untuk tidak menyesali pilihan kita, meskipun pilihan tersebut tak sebaik di awalnya. Hal buruk yang kita pilih, selain mengajari kita untuk menerima konsekuensi atas hal yang kita pilih, juga mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati lagi dalam menentukan pilihan ke depannya. Just remember to mind your choice :)

Selasa, 08 Desember 2015

Aku adalah rumah
Tak megah tak juga mewah
Sederhana saja
Berdiri dalam wujud mungil di antara hamparan sawah

Sudah beberapa tahun aku tak berpenghuni
Beberapa orang datang silih berganti
Hanya sekedar mengamati
Atau masuk sebentar untuk kemudian pergi lagi

Ada yang datang mengetuk
Ada pula yang hanya sekedar menumpang duduk
Bagiku tak mengapa
Toh aku hanyalah rumah sederhana

Kau tau apa yang kurindu?
Adanya penghuni yang masuk dan tinggal lama di dalamku
Penghuni yang mau tinggal dalam rumah sederhana dan segala kekurangannya
Dan mampu memperbaiki serta membuatku menjadi lebih baik lagi

Beberapa datang dengan niatan dan harapan
Namun baru menjejakkan kaki di teras saja sudah menyerah
Beberapa mampu tinggal sementara
Lalu kemudian lari dengan meninggalkan jejak kerusakan, luka dan lara dimana-mana

Bukan salah mereka
Mungkin harapanku yang melambung terlalu luar biasa
Atau mungkin karma
Karena tak jarang pula kuusir mereka yang datang dengan sukarela, hanya karena aku merasa bukan merekalah yang layak jadi pemilik rumah dan segala isinya

Tapi aku masih percaya
Akan datang seseorang yang benar-benar akan bertahan lama
Mungkin untuk selamanya
Yang tak kan berkeberatan untuk menghabiskan separuh hidupnya dalam buai kemungilan rumah sederhana
Dalam hembusan semilir angin tengah sawah
Dan di tengah terik mentari kala siang
Dengan segala daya upaya untuk memperbaiki dan menerima...