Kamis, 26 April 2018

Review Dorama Jepang: Tokyo Tarareba Musume (Tokyo Tarareba Girls)


Kau adalah karakter utama dari kisah panjang yang disebut kehidupan (Rinko Kamata, Tokyo Tarareba Musume)

Quotes di atas adalah salah satu quote yang disisipkan dalam prolog dorama Jepang keluaran Januari 2017, Tokyo Tarareba Musume. Yap! Entah kenapa belakangan saya jadi sering nonton dorama Jepang dan setelah Everyone’s Getting Married saya tamatkan, kali ini saya juga melahap habis dorama yang diadaptasi dari manga berjudul sama, yaitu Tokyo Tarareba Musume. Sebelum saya ulas lebih jauh, berikut informasi dan sinopsis dorama Tokyo Tarareba Musume :

Drama: Tokyo Tarareba Girls (English title)
Romaji: Tokyo Tarareba Musume
Japanese: 東京タラレバ娘Episode : 10
Tanggal Rilis : Januari 2017
 Sinopsis Tokyo Tarareba Musume:Menceritakan kisah tentang Rinko Kamata, seorang ‘gadis’ single berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai penulis naskah yang berulang kali mengalami kegagalan. Ia memiliki dua sahabat sebaya yang sama-sama jomblo dan sudah dekat sejak SMA. Mereka adalah Kaori Yamakawa dan Koyuki Torii. Kaori yang paling stylish  di antara mereka, memiliki salon nail art yang didapatnya dari modal yang diberikan ayahnya. Sementara Koyuki yang jago memasak, membuka kedai bersama dengan ayahnya. Bertiga, Rinko, Kaori dan Koyuki secara rutin dan hampir setiap hari bertemu di kedai Koyuki untuk bergosip, membahas hal-hal yang tidak penting dan bersama-sama meratapi nasib mereka yang masih melajang di usia 30 tahun atau dalam istilahnya disebut GNO (Girls Night Out). Tak jarang pertemuan mereka di kedai menimbulkan kegaduhan yang mengganggu pengunjung lain. Termasuk Key, salah seorang pengunjung yang menjuluki mereka sebagai Wanita Tarareba (Tarareba dalam bahasa Jepang artinya jika saja, karena Rinko, Kaori dan Koyuki selalu bercerita mengandai-andai)

Basically, Tokyo Tarareba Musume memiliki base cerita yang mirip-mirip sama Everyone’s Getting Married, yaitu impian perempuan di usia 30-an yang bener-bener ingin segera mengakhiri masa lajangnya. Cuma bedanya, kalo di Everyone’s Getting Married, tokoh utama hanya berpusat pada satu perempuan dan pria dengan kisah-kisah sweet ala ala drama gitu deh. Kalo di Tokyo Tarareba Musume, pusat cerita ada pada Rinko, Kaori dan Koyuki dengan segala kompleksitas kehidupan cinta masing-masing. Jangan harapkan di dorama ini ada ‘sooo sweet parts’ yang bikin hati meleleh. Alih-alih menampilkan bagian-bagian manis, dorama ini lebih banyak menceritakan kenyataan-kenyataan super pahit dan kegagalan yang membuat siapapun orangnya merasa menjadi manusia tersial sedunia. Cukup berbeda dengan dorama lainnya yang meskipun sedih, masih ada hal-hal manis yang menyentuh, dorama ini malah menyajikan kenyataan yang sungguh tak semanis kisah-kisah dalam dorama pada umumnya. Jangan harapkan adegan misalnya ketika perempuan sedang berantem dengan gebetannya, lalu si perempuan pulang dan tiba-tiba si gebetan ada di depan pintu rumah dan meminta maaf seperti adegan dorama pada umumnya. Dorama ini akan menyajikan kenyataan-kenyataan yang tak banyak diungkapkan dorama kebanyakan. Tapi meskipun dorama ini terkesan hanya mengisahkan kepahitan, kesepian dan keputus-asaan wanita usia 30tahunan yang mendamba untuk menikah, dorama ini tetap menyisipkan pelajaran-pelajaran yang bisa kita petik dan kita resapi. Apalagi bagi kalian wanita yang menginjak usia 30an atau sudah berada pada usia kepala tiga, kalian sungguh akan benar-benar menghayati dorama ini.

Lesson Learned :
Biarpun Tokyo Tarareba Musume hanya menceritakan tentang kepahitan, tapi tetap ada beberapa poin yang bisa saya pelajari. Bahkan di setiap akhir episode, selalu ada semacam quotes yang mengintisarikan pelajaran yang bisa dipetik dari keseluruhan adegan-adegan yang ditampilkan dalam tiap episodenya :

1.     Kita hidup hanya sekali, meskipun gagal tetap melangkah ke depan. Sungguh film ini berusaha menggambarkan tokohnya dalam keputus-asaan terhadap kisah cinta masing-masing yang sangat rumit untuk dihadapi di usia mereka yang ibarat kata sudah memasuki masa ‘injury time’. Mereka seolah dikejar oleh target untuk menikah sebelum Olimpiade 2020 . Berkali-kali mereka patah hati, bahkan berkali-kali gagal dalam urusan cinta. Namun bagaimanapun juga, hidup sungguh terlalu berharga jika hanya disia-siakan untuk meratapi kegagalan. Salah satu cara untuk meraih impian adalah bangkit dari kegagalan, karena jika kita terjatuh dan tidak niat untuk bangun lagi, bagaimana kita akan kembali berjalan dan meneruskan langkah yang tertunda?

2.  Dalam film ini digambarkan dalam waktu beberapa bulan, Rinko beberapa kali menjalani hubungan dengan pria yang berbeda, namun kesemuanya gagal. Kesemuanya digambarkan sebagai pria yang tampan, nyaman, baik dan perhatian. Namun apalah daya bila ternyata Rinko tidak nyaman. Selain Rinko, Koyuki dan Kaori juag memiliki masalah cintanya sendiri, mereka nyaman dengan pasangan masing-masing, namun mereka terlena dan terjebak pada hubungan yang salah. Mereka tak rela melepas karena sudah terlalu nyaman. Mungkin apabila saya ada di posisi Rinko dan sahabat-sahabatnya, saya akan mencari pasangan seolah-olah kayak lagi menyelesaikan tugas yang dikejar deadline, terburu-buru dan grusa-grusu.
3.   Kadang karena begitu ingin menikah, kita mengabaikan faktor kebahagiaan yang muncul ketika kita bersama pasangan. Semacam, siapa ajalah yang penting manusia dan berjenis kelamin pria. Tapi kita lupa, bahwa tujuan akhir bukan hanya menikah saja, tapi bahagia. Mungkin pria-pria itu menawarkan kriteria fisik dan kriteria umum yang dibutuhkan, tapi kriteria bahagia kita abaikan. Kadang kita terlalu nyaman pada hubungan yang salah, memaksakan karena merasa diri sudah tua, mau cari apa lagi? Yang penting menikah. Tapi apakah menikah dengan keadaan seperti ini akan membuat kita bahagia? Dorama ini menyadarkan saya bahwa tidak masalah di usia yang hampir kepala tiga, kita masih mengalami kegagalan dalam urusan cinta. Karena jalan cerita tak harus sama satu dengan yang lainnya. Ada yang usia 25an sudah menikah, ada yang harus gagal di usia 30an, tapi bukan berarti kita tak akan menemukan cinta kan? Intinya dorama ini mengajarkan bahwa tujuan akhir bukan hanya menikah tapi adalah bagaimana kita bisa meraih kebahagiaan dan menikmati setiap momen dalam kehidupan. Dorama ini juga mengajarkan bahwa kebahagiaan itu kita sendiri yang menentukan.

Meskipun Tokyo Tarareba Musume menceritakan tentang tiga wanita 30an yang selalu gagal dalam percintaan, namun kemasan dorama yang dibalut dengan genre komedi dan adegan-adegan konyol membuat kenyataan pahit yang disuguhkan dorama ini membuat kita lantas menangis seperti nonton drama-drama roman. Saya juga sempat surprise melihat akting Rinko Kamata yang diperankan oleh Yuriko Yoshitaka, karena dorama dan film yang sebelumnya saya tonton dari Yuriko adalah film sekuel We Were There dan Tokyo Dogs dimana Yuriko Yoshitaka memerankan wanita yang kalem, serius, ‘fragile’ dan feminin sekali. Sementara di Tokyo Tarareba Musume, ia memerankan tokoh Rinko dengan segala tingkah dan ekspresi konyolnya. Sementara Kaori diperankan oleh Nana Eikura yang saya kenal lewat dorama Mei’s Butler dimana dalam dorama tersebut Nana Eikura memerankan tokoh gadis tomboy, namun dalam dorama ini ia berperan sebagai wanita yang stylish dan feminin. Dan tokoh Koiyuki diperankan oleh Yuko Oshima, alumnus member AKB48 yang graduate pada tahun 2014, sempat menjadi member favorit pilihan penggemar untuk single Heavy Rotation dan sempat menjadi Kapten Tim K AKB48. Melihat perannya sebagai Koiyuki yang tenang, tegas, dewasa dan misterius di Tokyo Tarareba Musume, mungkin sedikit berbanding terbalik dengan citra yang ditampilkan saat menjadi member AKB48.

Yang menarik lagi dari dorama ini adalah animasi-animasi yang menambah kocak adegan yang ditampilkan. Bahkan jika para Wanita Tarareba sedang galau, ada dua animasi Tara dan Reba yang digambarkan sebagai telur dan hati ayam yang muncul dan memberikan saran. Animasi tara dan Reba ini semacam representasi dari kata hati Wanita Tarareba.

Overall, dorama ini layak untuk ditonton, terutama bagi wanita-wanita usia 30an yang masih dikejar mimpi untuk menikah. Penilaian pribadi untuk Tokyo Tarareba Musume secara keseluruhan adalah 86 dari skala 100.

Oiya untuk soundtrack dorama ini dinyanyikan oleh girlband Jepang Perfume dengan judul Tokyo Girls.

Senin, 16 April 2018

Review Dorama Jepang: Everyone's Getting Married

Rasanya sudah lama saya nggak review tentang film, drama ataupun lagu. Dan kali ini saya akan review dorama Jepang yang bikin saya berkali-kali nonton saking shooooooo-in-love-nyaaa dengan dorama satu ini.




English Title    : Everyone's Getting Married 
Literal Title     :  It's Sudden, But Tomorrow We're Getting Married 
Romaji            : Totsuzen Desu ga, Ashita Kekkon Shimasu  
Japanese        : 突然ですが、明日結婚します  
Episode          : 9 
Release Date  : 23 Januari 2017 
Sinopsis :  
Dorama ini menceritakan tentang Asuka Takanashi (Mariya Nishiuchi) seorang pegawai  berprestasi di sebuah bank besar di Jepang. Ia memiliki impian untuk segera menikah dan menjadi ibu rumah tangga. Namun, kekasih yang sudah menjalin hubungan dengannya selama 5 tahun akhirnya memutuskan hubungan dengannya saat hari ulangtahun Asuka,  kemudian mantan kekasihnya itu menikah dengan wanita lain. Asuka pun merasa terpukul dengan kejadian tersebut. Namun pada sebuah peristiwa Asuka dipertemukan dengan Nanami Ryu (Ryuta Yamamura) seorang pembaca berita dan pembawa acara. Sayangnya, Nana Ryu adalah pria yang bersikeras tidak ingin menikah sampai kapanpun, sungguh bertolak belakang dengan Asuka yang begitu ingin menikah.

Mungkin bagi sebagian orang, dorama ini terasa biasa saja. Hampir sama dengan dorama-dorama bertema cinta lainnya. Namun bagi saya, dorama ini bener-bener 'masuk ke ati' banget. Honestly, karena saya merasa karakter Asuka seolah menggambarkan sosok saya, which is perempuan dengan usia hampir menginjak kepala tiga, masih desperate soal urusan cinta, diputusin mantan yang udah pacaran tahunan lamanya, cukup berprestasi di bidang kerja (eh, yang ini enggak sih, hehehe), punya keluarga yang hangat serta seorang adik pria dan genk wanita sekantor yang jumlahnya tiga. Gimana? matching banget kan?! hahahaha. atau entah saya yang sengaja nge-pas-pas-in, hehehe. Oke, back to topic! Dorama ini memiliki alur cepat dan singkat, padahal menurut saya perguliran konflik dan pergantian antara momen bahagia ke momen sedih atau sebaliknya bisa dibuat sedikit lebih lama sehingga penonton bisa lebih meresapi tiap momennya. Tapi ya mungkin dorama Jepang tidak seperti sinetron Indonesia yang sebenernya bisa dibikin singkat tapi dipanjang-panjangin. Dorama ini hanya memiliki 9 episode dengan durasi 45-50 menit tiap episode layaknya dorama Jepang lainnya. Saya sempat berpikir, apa yang akan terjadi dalam bungkusan drama sesingkat ini. Bagi saya, endingnya pun seolah dikemas sangat minimalis, sungguh singkat dan rasanya saya masih ingin diceritakan lebih jauh lagi, hehehe (maunyaaaa...) But it's oke, I still can get the point. Meskipun tetep, rasanya kalo dorama ini nambah 3-4 episode lagi, saya juga masih dengan rela hati nonton sampe habis.

Kalo di atas saya bahas soal durasi dan episode, kali ini saya akan bahas tentang content dan pesan yang disampaikan dalam cerita. Menurut hemat saya yang sebenernya boros dan gak hemat-hemat banget (krik..krik..kriikk... hehehe), seperti drama-drama pada umumnya yang menyajikan konflik hati dan konflik cinta segiempat / cinta segitiga, begitupula dengan dorama ini. Dengan bumbu cinta segiempat, dorama ini sebenerya terkesan usual, B aja gitu dengan sedikit momen-momen manis yang membuat saya melting (ahhh, shoooo-sweeeettt). Namun meskipun cerita yang disuguhkan cukup ringan, tapi setidaknya ada pesan yang disampaikan, bahkan ada beberapa quotes dan point-point yang membuat saya tersadar.
  1. Dalam film ini akan muncul konflik antara Asuka dan Nana Ryu, dimana Asuka ingin buru-buru menikah sementara Nana Ryu mengatakan bahwa ia tidak ingin dan sampai kapanpun tidak akan menikah karena alasan masa lalu. Namun mereka berdua memiliki cinta yang sama besarnya, mereka begitu ingin bersama satu sama lain. hanya bedanya, Nana Ryu tidak ingin terikat oleh hubungan pernikahan, sementara Asuka seperti kebanyakan wanita lainnya tentu membutuhkan kepastian. Asuka sempat meragu apakah bisa mengubah pandangan Nana Ryu tentang pernikahan dan apakah ia dapat bertahan tanpa kepastian, entah akan menikah berapa tahun lagi atau tidak akan menikah selamanya dengan Nana Ryu. Tapi dorama ini mengajarkan saya bahwa setiap orang memiliki prinsip dan pandangan masing-masing. Bahkan ada pasangan yang memiliki pandangan dan prinsip berbeda namun tetap bersama. Itu bukan suatu hal yang perlu diperdebatkan atau menjadi alasan untuk berpisah. Bahwa jika memang masing-masing sudah memiliki niat untuk selalu bersama dan jika mereka memang ditakdirkan untuk bersama, perbedaan prinsip dan pandangan antar pasangan akan dapat disatukan, tentunya dengan saling memahami dan menghormati prinsip satu sama lain
  2. Ada quote menarik dari dorama ini "Pernikahan bukan tiket untuk hindari tanggung jawab dalam pekerjaan". Film ini menggambarkan bahwa pada akhirnya seorang wanita akan dihadapkan pada pilihan karir atau keluarga. Jika memilih karir, maka bersiaplah beberapa urusan keluarga harus bisa dikompromikan dengan urusan pekerjaan. Sementara jika memilih keluarga, karirmu akan tersendat. Memilih antara jadi wanita karir seutuhnya atau jadi ibu rumah tangga juga menjadi konflik yang disuguhkan dalam dorama ini. Terutama di Jepang dengan biaya hidup yang tinggi, menjadi ibu rumah tangga dan mengandalkan keuangan hanya pada suami saja, tidak semua pria Jepang mau menerimanya. Tiap karakter dalam dorama ini memiliki pandangan masing-masing tentang pilihan berkarir dan berkeluarga.
    "Pernikahan bukan tiket untuk hindari tanggung jawab dalam pekerjaan," kata Kamiya pada Asuki.
  3. Dalam kehidupan tentu kita akan dihadapkan pada pilihan sulit. Terkadang kita menggunakan orang lain sebagai alasan, entah untuk melindungi atau menjaga hatinya padahal sebenarnya, kita yang terlalu takut mengambil risiko, tidak percaya diri dan tidak cukup berani untuk membahagiakannya. "Aku tidak bisa terus bersamanya karena aku takut tidak bisa membahagiakannya" adalah kata-kata klise. Jika ingin terus bersama, tentu keberanian untuk membuat orang yang kita cintai bahagia akan selalu ada.
Selain poin-poin cerita yang menarik, salah satu yang membuat saya tertarik adalah karena Nana Ryu diperankan oleh Ryuta Yamamura yang tak lain dan tak bukan adalah vokalis band Flumpool dan dorama ini adalah debut pertamanya!!! Dan saya sungguh jatuh cinta dengan pembawaan Ryuta sebagai Nana Ryu yang begitu tenang, kalem tapi sekaligus dewasa, melindungi dan mengayomi ditambah lagi dia sudah memiliki bekal wajah ganteng. Kawaii!! selain itu, ada part dimana Nana Ryu berperan sebagai pengisi suara dan suaranya itu lhooo, manly banget! 

Oiya, satu lagi yang membuat saya lebih suka nonton dorama Jepang adalah budaya yang mereka tampilkan. Kemasan cerita mereka sederhana, bukan cerita-cerita yang dibalut kemewahan, rumah mewah, kendaraan mewah, bahkan dalam cerita pemainnya lebih sering berangkat kerja dengan berjalan kaki, naik sepeda, bus, kereta atau mentok-mentoknya naik taksi. Benar-benar budaya menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki terbawa sampai ke doramanya. Rasa-rasanya jarang banget liat dorama Jepang yang pemainnya bawa mobil sendiri. Dan katanya sih memang di sana orang-orang lebih sering jalan kaki padahal jarak yang ditempuh cukup jauh. Mungkin cuaca dan pedestrian walkwaynya juga mendukung banget buat jalan. Kalo di Indonesia, mau jalan cuaca panas banget, jalan sekilo aja udah engap, belum lagi debu, asap polusi dan klakson sana-sini dan kondisi trotoar yang tidak mendukung :((  Nah jadi OOT kan, hahaha.

Btw, itu tadi review dan sedikit sinopsis dorama Everyone's Getting Married. Secara keseluruhan, saya kasih nilai 79 dari skala 100 utuk dorama ini. Buat yang penasaran bisa nonton lewat aplikasi streaming Viu juga kok.

Oiya, tambahan untuk soundtrack dorama ini :